Thursday, April 1, 2021

Kawan, Untuk apa masa muda kita?

Pertanyaan inilah yang akan diajukan kepada setiap hamba Allah subhanahu wata’ala pada hari kiamat nanti. Sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu haditsnya:

لاَ تَزُوْلُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ : عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ.

“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana dia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan sudahkah beramal terhadap ilmu yang telah ia ketahui.” (HR. At Tirmidzi no. 2340)

Sekarang cobalah mengoreksi diri kalian sendiri, sudahkah kalian mengisi masa muda kalian untuk hal-hal yang bermanfaat yang mendatangkan keridhaan Allah subhanahu wata’ala? Ataukah kalian isi masa muda kita dengan perbuatan maksiat yang mendatangkan kemurkaan-Nya?

Kalau kita masih saja mengisi waktu muda kalian untuk bersenang-senang dan lupa kepada Allah subhanahu wata’ala, maka jawaban apa yang bisa kita ucapkan di hadapan Allah subhanahu wata’ala Sang Penguasa Hari Pembalasan? Tidakkah kita takut akan ancaman Allah subhanahu wata’ala terhadap orang yang banyak berbuat dosa dan maksiat? Padahal Allah subhanahu wata’ala telah mengancam pelaku kejahatan dalam firman-Nya:

مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (An Nisa’: 123)

Bukanlah masa tua yang akan ditanyakan oleh Allah subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, pergunakanlah kesempatan di masa muda kalian ini untuk kebaikan.

Ingat-ingatlah selalu bahwa setiap amal yang kalian lakukan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah subhanahu wata’ala.

7 sifat setan

1. Pantang menyerah
Setan tidak akan pernah menyerah selama keinginannya untuk menggoda manusia belum tercapai. Sedangkan insan banyak yang mudah menyerah dan sering mengeluh, tanpa menyadari kalau pertolongan Allah itu dekat.

2. Selalu Berusaha
Setan akan mencari cara apapun untuk menggoda manusia dan agar tujuannya tercapai, selalu kreatif dan penuh ide. Sedangkan manusia ingin enaknya saja, ingin cara instan tanpa dipikirkan apakah ini sesuai dengan aturan atau tidak, tidak mau berpikir walau Allah sudah menyindirnya di banyak ayat di Al Quran "....apakah kamu tidak memikirkannya?"

3. Konsisten
Setan dari mulai diciptakan tetap konsisten pada tugasnya, tak pernah mengeluh dan berputus asa. Sedangkan insan banyak yang mengeluhkan tugasnya, mengeluhkan kewajiban untuk apa hadirnya dia di muka bumi. Dan yang lebih parah lagi, banyak manusia yang tidak tahu sebetulnya esensi kehadirannya dia di muka bumi itu untuk apa.

4. Solider
Sesama setan tidak pernah saling menyakiti, bahkan selalu bekerjasama untuk menggoda manusia. Sedangkan manusia, jangankan bekerjasama untuk menggoda setan, peduli terhadap sesama saja mungkin tidak. Kebanyakan manusia berpecah belah, mementingkan kepentingan golongannya dan mengenyampingkan kepentingan keselamatan umat manusia, apalagi kepentingan Tuhannya.

5. Jenius
Setan itu paling pintar mencari cara agar manusia tergoda. Sedangkan manusia banyak yang tidak kreatif dalam usahanya ataupun terlalu kreatif sehingga menjadi bid'ah.

6. Tanpa Pamrih
Setan itu bekerja 24 Jam tanpa mengharapkan imbalan apapun. Sedangkan insan, yang katanya harta dan jiwanya sudah Allah beli untuk digantikan surga, seringkali masih mengharapkan imbalan berupa kehidupan duniawi.

7. Suka berteman
Setan selalu ingin berteman, mencari teman seperjuangannya dalam menggoda manusia dengan segala resikonya, mencari kawan pendamping untuk berbagi di neraka sana. Sedangkan insan banyak yang egois merasa surga untuk dirinya saja dan tidak mengajak berbagi ke yang lain, banyak yang sering malas mencari kawan seperjuangan melawan setan karena takut dengan resiko, malas mencari calon sesama penghuni surga kelak (kalo mau masuk surga).

Tongkat Musa untuk negriku..

Saya pernah mendengar cerita seorang ustadz muda yang belakangan menghabiskan waktunya di Timur Tengah bercerita tentang betapa diseganinya orang Indonesia di sana. Manusia berwajah Arab teramat khawatir jika TKI dari Indonesia memiliki kemampuan sihir luar biasa yang bisa melenyapkan akal mereka dalam seketika. Saya tertawa dalam hati sambil berpikir betapa menggelikannya paranoid mereka. Toh, kalaupun orang-orang berwajah Melayu itu mampu menyihir, mereka tak akan jauh-jauh pergi ke gurun pasir dan menghamba sahaya dengan gaji tak seberapa. Mereka pasti sudah kaya raya di sini, membuat para penyidik kepolisian lupa kasus korupsi yang mesti disidik, membuat kejaksaan khilaf tak membongkar kasus yang bertele-tele didebatkan di parlemen sampai saling memaki, atau paling tidak membuka layanan online sihir dari jaringan seluler dengan kedipan mata sambil bilang, “Ketik Reg Spasi Sihir”.

Tapi, mungkin saja kecemasan orang-orang Timur Tengah itu ada benarnya. TKI yang pergi melanglang buana itu bisa jadi mencari nafkah jauh ke negeri orang karena sihirnya sudah tidak laku di negeri ini. Sihir yang ketinggalan mode. Jadul. Kadaluwarsa. Karena negeri ini ternyata punya sihir yang lebih ampuh untuk mengubah segala yang sulit menjadi mudah, menjadikan yang tidak mungkin menjadi sangat mungkin, dan menciptakan yang semula tidak pernah terpikirkan menjadi sangat nyata. Sihir uang dan kekuasaan. Daya dobraknya boleh jadi lebih hebat dari kekuatan semua ‘Ki’ yang pernah ada di muka bumi. Efeknya pun dahsyat luar biasa, mencengkeram negara dalam kemiskinan dan kemelaratan berpuluh-puluh tahun. Mencengkram orang-orangnya dalam keserakahan, dalam kebodohan kedepannya. Entahlah apa yang mereka pikirkan? Memangnya jadi bupati itu bisa seenak perut, asal punya body mulus dan duit lancar walau jiwa lacur? Inilah yang namanya sihir nisbi yang kemutlakannya melampaui sihir mutlak.

Mungkin kita memang memerlukan tongkat Musa (yang terkenal paling ajaib mengalahkan tongkat apapun di muka bumi). Tongkat yang semula dilemparkan dan memaksa ular-ular para penyihir gigit jari, juga tongkat yang dipukulkan ke bumi untuk merekahkan dan menutup Laut Merah demi menenggelamkan Fir’aun. Mengapa tidak kita cari saja tongkat itu? Membuat sebuah tim khusus dari dewan rakyat, ditambah raja sidik dari kepolisian, dan sedikit amunisi dari kejaksaan untuk membuat peta jalan ke manakah kiranya tongkat Musa itu akan dicari. Sebelum itu, mungkin perlu sedikit pemanasan dari media plus komentator ulung politik yang jauh lebih ulung berkomentar daripada komentator sepakbola demi mengangkat isu yang kira-kira bakal laku dalam sebulan-dua bulan ke depan. Demi memenuhi hajat hidup pertelevisian, perkoranan, permajalahan, dan hasrat untuk menjadi terkenal, dan berharap mudah-mudahan saja doa mereka direstui kepala pemerintahan. Huh! Bullshit!

Kita memang seringkali membutuhkan bukti nyata untuk mempercayai sesuatu (meski di sisi lain juga begitu meyakini sesuatu yang tak tak jelas pangkal ujungnya). Bukan hal yang keliru, sesungguhnya. Bahkan, Ibrahim pun meminta Tuhannya menunjukkan bagaimana bisa Ia menghidupkan yang telah mati dan Musa mememohon Tuhannya agar Ia mewujud di hadapannya. Bedanya, mereka yang sudah sampai taraf kenabian itu punya alasan, “Liyathmainna qalbii,” agar hatiku menjadi tenteram. Sedangkan, bukti bagi kita seringkali hanya dipakai sebagai penguat bahwa ‘sesungguhnya’ kita benar dan yang lain salah. Maka, kebenaran itu kerap dipersalahkan dan kesalahan sering dibenar-benarkan.

Bukti yang kita cari bukan sebenar-benarnya bukti, tapi hanya pelipur bagi diri. Wajar bila kekisruhan itu segan untuk berhenti, malah justru berloncatan dari satu kesemrawutan ke kesemrawutan yang lain. Kejujuran kita mangkir dari fitrahnya dan lebih senang berlindung di bawah ketiak rasa malu, gengsi, dan keserakahan.

Mungkin saja kita memang perlu mencari peta harta karun paling berharga di muka bumi: tongkat Musa. Yang dengannya, boleh jadi para penyihir di negeri ini akan terkaget-kaget bahwa ada ular besar yang memangsa rekayasa mereka, juga terheran-heran ketika tiba-tiba sepasukan yang mengejar-ngejar dengan angkuh justru terjerembab dan mati tenggelam dalam kekayaan dan permainan mereka sendiri. Tongkat Musa itu yang mestinya membuat kita berpikir bahwa yang sedikit tak lantas menjadi pengecut dan pesakitan, tapi justru kokoh membela kebenaran karena yakin atas kekuasaan yang lebih tinggi dari kekuasaan manapun. Tongkat Musa itu yang seharusnya mengembalikan ingatan kita bahwa yang sejati dari sebuah kekuasaan bukan kekuasaan itu sendiri, tapi kejernihan untuk terus menghambakan diri kepada Allah SWT dan beramal ma'ruf nahi munkar kepada sesama manusia untuk keselamatan. Tongkat Musa itu pula yang perlu ditelusuri lebih dalam dari sekadar mu’jizatnya bahwa tak ada satupun yang mampu menjadi sandaran bagi kehidupan, kecuali segalanya berpulang pada Nya sebagai harapan rahmat dan pertolongan.

Tongkat Musa, dimanakah kau berada?

Apakah berada dipundak para unta bodoh yang kehausan di tengah padang pasir?

Ataukah sudah tertancap tegak di negri ini?

Lalu kenapa tidak terasa keberadaanya?

Ataukah memang kami mengabaikan keberadaannya?

Thursday, March 11, 2021

Terbiasa dalam Gelap

Pasti kita pernah mengalami mati lampu. Saat bersama keluarga, sedang belajar, atau bekerja, tiba2 penglihatan kita mndadak gelap. “Waduh, mati lagi!”, begitu biasanya kita berucap ketika hal itu terjadi, sbg ungkapan suatu hal yg tdk nyaman sedang terjadi. Aktivitas kita terpaksa terhenti, krn memang banyak kegiatan kita yg bergantung pada cahaya. Kalau dipaksakan, malah lebih bahaya. Kita menunggu lampu menyala lagi, dan melanjutkan kegiatan kita.

Tapi ternyata ketika kita menunggu lampu menyala, sesuatu yg menarik terjadi: mata kita mulai terbiasa dgn gelap dan dpt dengan samar melihat sekeliling kita. Tentunya tdk sejelas ketika lampu menyala, dan jarak pandangnya pun sangat terbatas. Manusia memang diciptakan memiliki kemampuan adaptasi yg mengagumkan! Satu hal yang terjadi pada situasi ini adlh: kita sdh terbiasa dengan kondisi gelap. Ketidaknyamanan yg muncul di awal tadi sudah tdk begitu terasa, dan mulai terbiasa dengan jarak pandang yg pendek, dan memaklumi keadaan ketika kaki kita terantuk meja sana-sini, atau kita tdk sengaja menginjak kaki orang lain di samping kita. Kondisi gelap ini menjadikan wajar berbagai kesalahan, padahal kesalahan2 tersebut sebenarnya tdk perlu terjadi.

Melihat kondisi yg serba tak tentu saat ini, apkh saat ini kita sedang “mati lampu”? Lebih parahnya, apkh kita sedang merasa nyaman dengan kegelapan ini?

Allah mengibaratkan Islam sbg cahaya. Dengan adanya cahaya, jelaslah terlihat mana yang benar dan salah. Pandangan pun bisa melihat lebih jauh hingga ke akhirat. Dlm kondisi mati lampu, ada orang-orang yg berusaha memperbaiki gardu, mengecek sambungan listriknya, menyuplai kabel, dan teknisi yang terorganisasi agar terselenggaranya cahaya di rumah kita. Selagi mereka memperbaiki, ada yg berusaha menyalakan lilin, mencari lampu darurat, dan sumber penerangan lain.

Sebentar lagi lampu akan menyala kembali, tdk tahu tepatnya kapan, dgn atau tanpa keikutsertaan kita. Peran kita saat ini adlh sebuah pilihan, sebagai orang yg berusaha mengadakan cahaya, orang yg menunggu saja dalam gelap, atau bahkan orang yg tidak mau lampu menyala lagi? Krn takut ketahuan perbuatan kita selama kegelapan. Wallahualam

-hambaAllah-

Oleh-Oleh Isra Mi'raj

Banyak yg berkata isra miraj adalah bentuk "hadiah" yang Allah berikan kpd Rasulullah SAW ketika dilanda kesedihan setelah pamannya Abu Thalib dan istri tercintanya Khadijah RA dipanggil Allah SWT, tp apakah benar demikian?

Jika kita lihat sunnahnya, kondisi umt Islam saat itu dilanda krisis kemandirian luar biasa setelah boykot syiib. Secara keamanan, Islam masih bergantung pada perlindungan bani hasyim yg dipimpin Abu Thalib, dan secara ekonomi Islam masih bergantung pada harta pribadi Khadijah RA sbg sumber perjuangan.

Ketika Allah mewafatkan mereka, berarti ada kondisi yg ingin Allah ubah mengenai kebergantungan tsb. "Allahu somad" hanya kepada-Ku seharusnya tempat bergantung. Agar bisa seperti itu, Allah memberikan oleh2 yg sangat berharga dr Isra Miraj; Shalat.

Shalat bukan hanya skdr ritual. Shalat adalah perlambangan dari keteraturan berorganisasi/bernegara. Ada pemimpinnya, ada umatnya, ada tempatnya ada aturan mainnya. Perintah shalat 5 waktu bs diartikan jg perapihan saf organisasi/pembagian tugas2.

Dari Isra Mi'raj, Rasulullah membangun kemandirian ekonomi dan keamanan dengan mencari tempat hijrah yang cocok, Madinah.

Madinah (yastrib) adalah tempat yg mata pencaharian masyarakatnya bertani, tdk spt Makkah yg mata pencahariannya berdagang. Makanya jika madinah dilockdown/boikot seharusnya masih bisa survive, dan ini dibuktikan ketika lockdown perang khandak. Secara keamanan pun ketika rasulullah hijrah ke madinah, langsung dibentuk tentara pertama yg lgsg diuji dgn perang Badar.

Jadi apakah shalatmu hanya ritual saja?

Friday, March 31, 2017

Bulan Haram (Part2)

Saat ini banyak kaum Muslim yang tidak tahu, bahwa Rajab adalah bulan suci. Bulan haram, yang wajib dimuliakan dan dihormati. Kemuliaan dan kehormatan bulan ini telah ditetapkan oleh Allah sendiri. Dalam al-Qur’an, Allah menyatakan:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah SWT ada dua belas bulan dalam catatan Allah pada hari, ketika Allah SWT menciptakan langit dan bumi. Di antaranya terdapat empat bulan haram [suci]. Itulah agama yang lurus. Maka, janganlah kalian menzalimi diri kalian di bulan-bulan itu.” [Q.s. at-Taubah: 36]

Makna empat bulan suci di dalam ayat ini dijelaskan oleh Nabi saw.

إنَّ الزَّماَنَ قَدْ اِسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اِثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُوْ الْقَعْدَةِ، وَذُوْ الْحِجَّةِ، وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ شَهْرُ مُضَرّ الَّذِيْ بَيْنَ جُمَادِى وَشَعْبَانَ [رواه مسلم]“Sesungguhnya waktu itu telah diputar sebagaimana keadaannya ketika Allah SWT menciptakan langit dan bumi. Tahun itu ada dua belas bulan, di antaranya terdapat empat bulan haram [suci]. Tiga berurutan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab bulan Mudharr yang terdapat di antara Jumadi dan Sya’ban.” [Hr. Muslim]

Allah SWT memilih bulan-bulan tertentu sebagai bulan haram [suci], bukan tanpa maksud. Sebab, jika tanpa maksud, tentu pemilihan empat bulan tersebut sia-sia. Karena, tidak ada lagi bedanya dengan bulan-bulan halal [tidak disucikan] yang lain. Disebut bulan haram [suci], karena kemuliaan yang ada di dalamnya. Karena itu, dalam khutbah Haji Wada’-nya Nabi saw. bersabda:

إنَّ أَمْوَالَكُمْ وَدِمَاءَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا وَفِي بَلَدِكُمْ هَذَا [رواه مسلم]
“Sesungguhnya harta kalian, darah kalian dan kehormatan kalian adalah haram [merupakan kemuliaan] bagi kalian, sebagaimana kemuliaan hari kalian ini, di bulan kalian ini, dan di negeri kalian ini.” [Hr. Muslim]
Karena itu, maksud bulan haram di sini adalah bulan yang disucikan, dimuliakan dan dihormati, yang wajib dijaga. Maka, dalam Q.s. at-Taubah: 36 di atas, Allah dengan tegas melarang kita melakukan kezaliman terhadap diri kita di bulan-bulan tersebut. Jika melakukan kezaliman di bulan-bulan lain dilarang, maka penegasan Allah atas larangan melakukan melakukan kezaliman di bulan haram ini menunjukkan larangan tersebut dosanya sangat besar. Begitu juga, kita dilarang menzalimi diri sendiri, maka larangan menzalimi orang lain tentu dosanya lebih besar lagi.

Karena itu, Imam al-Baihaqi dalam kitabnya, Sya’b al-Iman, menyatakan bahwa Allah SWT telah menjadikan dosa yang dilakukan di bulan-bulan [haram] tersebut lebih besar. Begitu juga amal shalih dan pahalanya [yang dilakukan di bulan-bulan haram tersebut] juga sangat besar [al-Baihaqi, Sya’b al-Iman, Juz III/370].

Dalam hadits Muslim di atas, Nabi saw. juga menyebut bulan dan tanah haram, karena dua-duanya merupakan bulan dan tanah suci, yang berbeda dengan bulan dan tanah yang lain. Dalam hadits riwayat al-Hakim dinyatakan, bahwa ketaatan yang dilakukan di tanah haram, pahalanya dilipatgandakan 100,000 kali. Begitu juga kemaksiatan yang dilakukan di dalamnya.

Dahulu, kaum Muslim pun menolak untuk mengeksekusi hukuman qishash di bulan haram ini. Telah disampaikan dari ‘Atha’, bahwa ada pria telah terluka di bulan halal, lalu ‘Utsman bin Muhammad, yang saat itu menjadi Amir, hendak mengikatnya di bulan haram. Maka, ‘Ubaid bin ‘Umair menulis surat kepadanya, “Janganlah kamu mengikatnya hingga masuk bulan halal.” [‘Abd ar-Razzaq, al-Mushannaf, Juz IX/303].

Bahkan, Imam as-Syafii –rahimahullah-- telah melipatgandakan diyat [uang tebusan] untuk orang yang dibunuh karena salah yang dilakukan di bulan haram, karena bersandar pada riwayat dari Ibn ‘Umar dan Ibn ‘Abbas. Inilah kemuliaan bulan haram, termasuk di dalam bulan Rajab.

Sungguh mengagumkan, apa yang telah dilakukan oleh bangsa Arab Jahiliyah. Sebelum Nabi saw. diutus kepada mereka, mereka sudah mengenal kesucian dan kemuliaan bulan Rajab. Ummul Mukminin, ‘Aisyah ra. telah menuturkan, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda:

إِنَّ رَجَبَ شَهْرُ اللهِ، وَيُدْعَى الأصَمُّ، وَكَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا دَخَلَ رَجَبُ يُعَطِّلُوْنَ أَسْلِحَتَهُمْ وَيَضَعُوْنَهَا، وَكَانَ النَّاسُ يَنَامُوْنَ، وَتَأْمَنُ السُّبُلُ، وَلاَ يَخَافُوْنَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا حَتَّى يَنْقَضِيَ
“Sesungguhnya Rajab adalah bulan Allah. Ia disebut al-Asham [si tuli]. Orang Jahiliyyah, ketika telah memasuki bulan Rajab, mereka meninggalkan senjata mereka dan meletakkannya. Orang-orang pun bisa tidur, jalan-jalan pun aman. Mereka tidak takut satu dengan yang lain, hingga bulan tersebut berakhir.” [Hr. al-Baihaqi, Sya’b al-Iman, Juz VIII/320].
Imam al-Arzaqi, dalam kitabnya, Akhbar Makkah, menuturkan, “Mereka [bangsa Arab] mengharapkan kemuliaan dari bulan-bulan haram. Mereka pun saling berjanji satu dengan yang lain di bulan-bulan haram dan di tanah haram.” [al-Arzaqi, Akhbar Makkah, Juz I/232].

Imam Mahdi bin Maimun berkata, “Saya mendengar Abu Raja’ al-‘Atharidi berkata, “Di masa Jahiliyyah, ketika kami memasuki bulan Rajab, kami mengatakan, “Telah datang peluntur gigi. Maka, jangan kita biarkan besi tetap di busur dan tombaknya, kecuali kita harus mencabutnya. Kemudian kita membuangnya.”

Begitu luar biasanya bulan Rajab di mata orang Jahiliyah. Meski mereka belum mengenal Islam, tetapi mereka menghormati kemuliaan dan kesucian bulan ini. Kemuliaan, kesucian dan kehormatan yang tetap dijaga oleh Islam hingga Hari Kiamat. Namun, sayangnya banyak kaum Muslim yang tidak paham kemuliaan, kesucian dan kehormatan bulan Rajab ini, sehingga menyia-nyiakannya, bahkan menodai kemuliaan, kesucian dan kehormatannya.

Selain Allah telah menetapkan Rajab sebagai bulan suci, Allah SWT juga memilihnya sebagai moment hijrahnya kaum Muslim yang pertama ke Habasyah, tahun ke-5 kenabian. Tidak hanya itu, Allah juga menjadikannya sebagai moment untuk mengisra’mikrajkan hamba-Nya tahun ke-10 kenabian. Isra’ dan Mikraj adalah moment istimewa, tidak saja moment Nabi menerima titah kewajiban shalat, tetapi juga moment pengukuhan Nabi sebagai pemimpin bagi seluruh umat manusia. Ketika baginda saw. dititahkan menjadi imam para Nabi dan Rasul sebelumnya di Baitul Maqdis.

Rajab juga telah ditetapkan oleh Allah sebagai moment pertemuan pertama kali Nabi saw. dengan kaum Anshar, yang mempunyai kemuliaan, dimana melalui tangan merekalah Negara Islam pertama tegak di Madinah. Dengannya, kesucian darah, harta dan jiwa pun bisa terjaga. Dalam kitab al-Mustadrak, karya Imam al-Hakim an-Naisaburi, dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau menuturkan:

“Rasulullah saw. pernah menawarkan dakwah kepada khalayak..” Baginda mengatakan, “Apakah ada seseorang yang bisa membawaku kepada kaumnya, karena kaum Quraisy telah menghalangiku untuk menyampaikan firman Tuhanku?” Berkata [Jabir], “Seorang laki-laki dari Bani Hamdan lalu mendatangi baginda. Dia berkata, “Saya.” Baginda bertanya, “Apakah kamu mempunyai kekuatan [yang bisa melindungi] dari kaummu?” Dia menjawab, “Iya.” Lalu, baginda bertanya kepadanya, dari mana asalnya?” Dia menjawab, “Dari Bani Hamdan.” Setelah itu, seorang laki-laki dari Bani Hamdan ini pun takut akan diserang kaumnya. Dia pun mendatangi Rasulullah saw. seraya berkata, “Saya telah mendatangi kaumku, aku beritahukan kepada mereka. Kemudian saya akan menemuimu tahun depan.” Baginda menjawab, “Baik.” Dia pun pergi. Lalu, delegasi Anshar pun tiba pada bulan Rajab.” [Hr. al-Hakim, al-Mustadrak, Juz IX/497]

Rajab juga telah dijadikan oleh Allah SWT moment istimewa peralihan kiblat kaum Muslim, dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram. Menurut Imam Ahmad dari Ibn ‘Abbas, peralihan kiblat ini terjadi setelah enam belas atau tujuh belas bulan Nabi saw. hijrah ke Madinah. Itu terjadi di bulan Rajab [Ibn Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, Juz III/252-253].

Rasulullah saw. juga menjadikan Rajab sebagai moment pengiriman desatemen ‘Abdullah bin Jahsy, yang kemudian menjadi pemicu terjadinya Perang Badar [Ibn Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, Juz III/248-249]. Bahkan, peperangan yang sangat sulit, sehingga tentaranya disebut Jaisy ‘Usyrah pun dilakukan di bulan Rajab, tahun 9 H [Ibn Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah, Juz V/195].

Rajab juga telah dijadikan moment penting bagi generasi setelahnya. Abu ‘Ubaidah al-Jarrah dan Khalid bin al-Walid --radhiya-Llahu ‘anhuma—telah mengepung kota Damaskus sejak bulan Rabiul Akhir, hingga kota itu takluk pada bulan Rajab tahun 14 H/635 M.

Setelah itu, Perang Yarmuk, yang dipimpin oleh Khalid bin al-Walid menghadapi Romawi juga terjadi pada hari Senin, bulan Rajab, tahun 15 H/636 M [Ibn Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, Juz VII/4]. Khalid bin al-Walid kemudian menaklukkan Hirah, Irak juga terjadi di bulan Rajab [Ibn Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, Juz VI/343]. Setelah menaklukkan Irak ini, Khalid kemudian melakukan Shalat Fath.

Baitul Maqdis juga berhasil direbut kembali oleh kaum Muslim di bulan Rajab, tepatnya 28 Rajab 583 H/2 Oktober 1187 M di bawah kepemimpinan Shalahuddin al-Ayyubi. Adzan dan Shalat Jum’at kembali dikumandangkan, dan dilaksanakan di masjid bersejarah itu, setelah 88 tahun diduduki tentara Salib. Ini terjadi setelah kemenangan Shalahuddin dalam Perang Hittin.

Rajab juga merupakan moment dimana Khalifah Muhammad IV mengepung Wina-Austria untuk kedua kalinya, pada 28 Rajab 1094 H/14 Juni 1683 M, setelah 154 hari pengepungan pertama yang dilakukan oleh Khalifah Sulaiman al-Qanuni. Pengepungan tersebut berlangsung 59 hari, tetapi tidak membuahkan hasil, menaklukkan Wina, Austria.

Begitulah kemuliaan Rajab di mata Islam dan kaum Muslim, dari dulu, kini hingga Hari Kiamat. Namun, kemuliaan Rajab yang begitu luar biasa itu telah hilang, seiring dengan hilangnya pemahaman dan kesadaran umat akan kemuliaan bulan ini, terutama setelah Islam telah dibuang dari kehidupan, sejak Khilafah ‘Utsmani dihancurkan oleh Kemal Attaturk, bersama Inggris dan Perancis, 28 Rajab 1351 H/1924 M.

Namun, dengan izin dan pertolongan Allah, ada jamaah di antara umat Nabi-Nya yang terus-menerus berjuang siang dan malam untuk menghidupkan kemuliaan Rajab. Berjuang dan melipatgandakan perjuangannya untuk mengembalikan tegaknya kembali Khilafah, terutama di bulan haram ini. Semuanya itu dilakukan karena kesadaran akan kondisi umat ini, bagaimana penderitaan yang dialaminya, serta solusi apa yang seharusnya mereka ambil.

Meski untuk itu, berbagai tantangan, hambatan dan rintangan terus-menerus dihadapi. Tantangan, hambatan dan rintangan yang bahkan, kadang datang dari sesama saudara sendiri. Bahkan, lebih menyedihkan lagi, ketika mereka yang mengaku Muslim itu sanggup menistakan dan menodai kemuliaan warisan Nabi, dan dilakukan di bulan suci yang seharusnya dijaga dan dihormati.

Tetapi, semuanya itu tak membuatnya surut, apalagi patah arang dan menyerah. Karena, keyakinan di dalam hati, bahwa urusan ini adalah urusan Allah. Maka, pasti Allah akan mengurusnya. Menyampaikan urusan-Nya dan memenangkannya. Begitulah keyakinan mereka, dan begitulah keyakinan kita.

Semoga kita senantiasa bisa mengisi kemuliaan Rajab, menjaga kesucian dan kehormatannya, serta menjauhi sejauh-jauhnya kemaksiatan dan dosa yang bisa menistakan dan menodai kesucian dan kehormatannya. Aamiin.

Rumah Dan Kemandirian (Part2)

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kondisi ekonomi negeri kita, baik tingkat lokal maupun nasional sekarang itu sama dengan kondisi ekonomi Madinah saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan kaum Muhajirin belum hijrah ke sana. Saat itu Yahudi secara fisik benar benar mencengkram. Mereka menguasai perdagangan antar kota/negara, pertanian, perdagangan pakaian, tenun, perdagangan emas lengkap dengan industri kerajinan dari emas maupun besi. Yang lebih-lebih mencekik penduduk sampai pemuka masyarakat Madinah saat itu adalah industri keuangan mereka saat itu, yaitu peminjaman uang dengan bunga/riba yang sangat tinggi.

Sekarang bukan Yahudi secara fisik yang mencengkram namun cukup sistemnya saja yang dipakai sana sini. Jadi apa yang harus kita lakukan?

Kondisi yang dihadapi umat saat ini hanya bisa diperbaiki dengan cara sebagaimana umat ini dahulu diperbaiki. Bila masyarakat Madinah bisa diperbaiki dari keterpurukan menjadi masyarakat pemenang dan masyarakat pembebas dunia pasca terjadinya Hijrah, dengan fondasi tauhid yang sama dan amal Islami yang mencontoh petunjuk yang sama, mestinya umat di jaman inipun bisa diunggulkan kembali, lepas dari segala keterikatan dan segala cengkraman.

Ketika masih di Makkahm, perjuangan Islam sangatlah bergantung ke pihak-pihak tertentu saja, seperti urusan ekonomi sangat bergantung pada Khadijah, dan urusan keamanan masih bergantung pada Abu Thalib. Ketika dua gantungan tersebut diwafatkan dalam waktu yang berdekatan, terlihat bahwa Allah ingin menegaskan
Allah hu samad : "Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu" 112/2
Isra mi'raj yang menghasilkan oleh-oleh perintah shalat 5waktu adalah awal mula dari semua perbaikan. Sejak isra miraj, Rasulullah mulai merapihkan shafnya. Sebelumnya ada rombongan hijrah ke habasyah yang tujuannya untuk menyelamatkan umat. Setelah isra miraj, hijrah menjadi bukan hanya untuk menyelamatkan umat, tapi menyelamatkan islam dan menegakannya secara keseluruhan. Makanya rasulullahpun mencari tempat lain yang lebih kondusif, seperti ke Thaif. Tapi sayangnya masyarakat disana menolak.

Sampai akhirnya di bulan Rajab, atas izin Allah terjadi pertemuan pertama kali rasulullah dengan kaum Anshar, kaum yang mempunyai kemuliaan. Dimana melalui tangan merekalah Negara Islam pertama tegak di Madinah. Dengannya, misi risalah, kesucian darah, harta dan jiwa pun bisa terjaga. Dalam kitab al-Mustadrak, karya Imam al-Hakim an-Naisaburi, dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau menuturkan:
“Rasulullah saw. pernah menawarkan dakwah kepada khalayak..” Baginda mengatakan, “Apakah ada seseorang yang bisa membawaku kepada kaumnya, karena kaum Quraisy telah menghalangiku untuk menyampaikan firman Tuhanku?” Berkata [Jabir], “Seorang laki-laki dari Bani Hamdan lalu mendatangi baginda. Dia berkata, “Saya.” Baginda bertanya, “Apakah kamu mempunyai kekuatan [yang bisa melindungi] dari kaummu?” Dia menjawab, “Iya.” Lalu, baginda bertanya kepadanya, dari mana asalnya?” Dia menjawab, “Dari Bani Hamdan.” Setelah itu, seorang laki-laki dari Bani Hamdan ini pun takut akan diserang kaumnya. Dia pun mendatangi Rasulullah saw. seraya berkata, “Saya telah mendatangi kaumku, aku beritahukan kepada mereka. Kemudian saya akan menemuimu tahun depan.” Baginda menjawab, “Baik.” Dia pun pergi. Lalu, delegasi Anshar pun tiba pada bulan Rajab.” [Hr. al-Hakim, al-Mustadrak, Juz IX/497]
Kita bisa mengkaji lebih jauh, kenapa madinah? bedanya dengan makkah? Ternyata Madinah adalah negara agraris. Pekerjaan warganya mayoritas adalah petani, sehingga madinah adalah kota yang bisa menghidupi dirinya sendiri. Bisa dibuktikan ketika terjadi perang khandak, warga madinah masih bisa menyuplai logistik mereka sendiri, tidak takut kelaparan karena kekurangan makanan.

Berbeda dengan Makkah, Makkah adalah kota perdagangan. tidak ada tanaman/kebun-kebun disana. Warganya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dari jual beli ke kota lain. Sehingga bisa ditebak, kalau Makkah dikepung atau diputus jalur perdagangannya, maka tamatlah pemerintahan disana.

Indonesia adalah representasi dari madinah. Tanahnya subur, apapun bisa ditanam. Tanpa menggali kedalam tanahpun Indonesia harusnya sudah sangat bisa sejahtera. Cuma kenyataan hari ini, bahkan dengan mengeruk seluruh isi bumipun tetap tidak bisa sejahtera karena ada sistem ribawi dari yahudi ini. Indonesia dijerat hutang yang tidak berkesudahan.

Kemandirian agraris ini adalah jawaban bagi kita agar lepas dari lingkaran setan, lepas dari jerat hutang NKRI, lepas dari mata uang kertas yang sama sekali tidak ada manfaatnya. Dengan kemandirian agraris ini kita bisa jual beli sesama kita sendiri, bertukar komoditas menggunakan alat jual beli yg tidak riba.

Kemandirian agraris ini bisa kita mulai dari rumah kita sendiri
“Tidaklah seorang muslim menanam pohon, tidak pula menanam tanaman kemudian pohon/ tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia atau binatang melainkan menjadi sedekah baginya.” (HR. Imam Bukhari hadits no.2321)