Pertanyaan inilah yang akan diajukan kepada setiap hamba Allah subhanahu wata’ala pada hari kiamat nanti. Sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu haditsnya:
لاَ تَزُوْلُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ : عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ.
“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana dia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan sudahkah beramal terhadap ilmu yang telah ia ketahui.” (HR. At Tirmidzi no. 2340)
Sekarang cobalah mengoreksi diri kalian sendiri, sudahkah kalian mengisi masa muda kalian untuk hal-hal yang bermanfaat yang mendatangkan keridhaan Allah subhanahu wata’ala? Ataukah kalian isi masa muda kita dengan perbuatan maksiat yang mendatangkan kemurkaan-Nya?
Kalau kita masih saja mengisi waktu muda kalian untuk bersenang-senang dan lupa kepada Allah subhanahu wata’ala, maka jawaban apa yang bisa kita ucapkan di hadapan Allah subhanahu wata’ala Sang Penguasa Hari Pembalasan? Tidakkah kita takut akan ancaman Allah subhanahu wata’ala terhadap orang yang banyak berbuat dosa dan maksiat? Padahal Allah subhanahu wata’ala telah mengancam pelaku kejahatan dalam firman-Nya:
مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا
“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (An Nisa’: 123)
Bukanlah masa tua yang akan ditanyakan oleh Allah subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, pergunakanlah kesempatan di masa muda kalian ini untuk kebaikan.
Ingat-ingatlah selalu bahwa setiap amal yang kalian lakukan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah subhanahu wata’ala.
Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts
Thursday, April 1, 2021
Saturday, December 22, 2012
Idealisme Anak Kecil
Jadi teringat impian saya ketika kecil.
Saya adalah seorang idealis dalam hal lingkungan hidup. Walaupun saya tidak kuliah di teknik lingkungan, tapi saya sangat "fanatik" dan sensitif dengan hal-hal yang berbau; pengehematan, air, udara, energi, efisiensi, optimasi, hijau, pohon, kebun, sampah, listrik, invention.
Dahulu waktu SD, saya sangat menyukai pelajaran IPA yang bagaikan ilmu sulap pikirku saat itu. Dahulu pernah ada tugas membuat rumah-rumahan dan mendekorasinya dengan segala pelajaran IPA yang pernah diterima. Lalu mulailah saya buat rumah tersebut dari aneka kardus bekas dan saya dekorasi menggunakan aneka imajinasi saya. Saya buat box kecil disamping rumah utamanya bertuliskan "pembangkit listrik tenaga air hujan". Tak hanya itu ada lagi "pembangkit listrik tenaga matahari", "kompor tenaga matahari", "penampung air hujan untuk air keperluan sehari-hari", "pohon penyerap air", "tempat sampah pintar", dan sejumlah box battery+saklar yang dihubungkan dengan aneka LED yang saya pasang di penjuru rumah mainan saya dan sangat terlihat indah ketika dinyalakan.
Dahulu waktu SD, saya berharap setiap tetesan air yang jatuh dari langit bisa saya minum atau bisa saya simpan untuk saya minum nantinya. Greedy memang, tapi ilmu "mubadzir" yang diajarkan guru ngaji saya sejak saya kecil sungguh sangat menempel pada saya (sampai sekarang pun). Saya juga pernah mencoba-cba memuat pembangkit listrik tenaga air hujan, suatu penghasil listrik dari kumpulan air hujan di saluran paralon yang terkumpul dari genting dan nantinya akan memutarkan generator (dinamo) kecil yang saya siapkan di kamar saya. Walau listrik yang dihasilkan sungguh sangat kecil hanya cukup untuk menyalakan LED kecil, tapi saya bangga bisa membuatnya.
Dahulu waktu saya SD, saya sangat tertarik apabila melihat suatu pohon besar dan rumput-rumput kecil yang tumbuh dinaungannya. Lalu ada akar nafas pohon yang menjulur kebawah dan meneteskan air yang bisa saya tampung untuk saya minum. Saya selalu berangan-angan kalau saya bisa "kemping" sepanjang hidup saya di taman tersebut bersama teman-teman saya. Sejuk, nyaman, aman, "terfasilitasi", itulah yang ada di pikiran saya ketika membayangkannya. Dan dulu saya menemukan tempat seperti itu di IKIP BANDUNG, suatu perguruan tinggi yang sekarang namanya menjadi UPI yang dahulu sangatlah indah dengan aneka tanaman hijau yang sekarang berubah menjadi lapang semen. Untungnya saya sekarang menemukan tempat seperti itu lagi, bukan secara fisik (jasmani) tentunya, tapi secara rohani.
Dahulu waktu saya SD, saya sangat strict tentang permborosan. Apabila melihat lampu menyala di siang hari tangan saya menjadi sangat gatal ingin mematikannya. Juga apabila melihat kran menyala dan airnya terbuang, pasti akan langsung saya tutup. Insting anak kecil memang, walau tidak bisa menjelaskan kenapa tapi dahulu saya merasa bingung dengan orang dewasa yang melakukan pemborosan seperti itu. Saya pernah berantem dengan teman saya yang dibolehkan oleh ayahnya untuk tidak mematikan lampu kamarnya ketika tidur kalau takut gelap. Saya selalu berpergian menggunakan sepeda karena untuk saya itulah alat bermain yang bisa mengantarkanmu ke tempat tujuanmu dan insting saya bilang kalau sepeda itu sesuai dengan idealisme si kecil saya (yang skrg barulah saya tahu bahwa sepeda adalah the most efficient machine on the planet).
Dahulu waktu saya SD, saya biasanya jarang membuang sampah. Di mata idealisme si kecil saya, saya menganggap tidak ada yang namanya sampah, yang ada hanyalah barang yang belum terpakai untuk bisa digunakan lagi sebagai sesuatu di kemudian hari. Akibatnya saya sangat merasa sayang apabila membuang sampah, walau hanya sebotol aqua atau bungkus permen pun saya merasa ini bisa saya gunakan lagi nantinya. Prinsip mubadzir yang lagi-lagi menempel dengan eratnya. Dan saya sungguh sangat kagum dengan orang yang bisa membuat sesuatu menggunakan sampah. Ada Richie Sowa dengan pulau botol plastiknya dll. Iseng-iseng saya pernah mencoba membuat tabung penghasil kompos dari suatu drum besar yang saya buat lubang dan saya masukan selang untuk memompakan udara kedalamnya. Didalamnya saya membuat filter untuk sampah kasar dan cairan hasilnya. Saya tinggal memasukan sampah organik saya kesana dan sim salabim dalam beberapa minggu jadilah cairan bergizi untuk pohon-pohon kecil yang saya rawat. and it's work!
Dahulu waktu SD, saya berharap bisa membuat suatu kendaraan bebas polusi yang lebaynya bisa mengeluarkan gas bersih yang enak dihirup daripada mengeluarkan suatu gas bau dari knalpot (yang saya masih belum tau apa itu namanya sampai saya SMA). Dan ketika SMA saya baru tahu bahwa gas yg oke untuk dihirup adalah oksigen (campur nitrogen tentunya) dan hasil pembakaran kendaraan bermotor adalah karbondioksida (campur sulfur dll tergantung katalis bensinnya). Dan ketika SMA juga saya baru tahu ada proses namanya electrolysis yang bisa memisahkan H2O menjadi H2 dan O2 dengan listrik. Sungguh suatu sumber bahan bakar yang saya impikan dari SD karena setelah terbakar akan kembali menjadi H2O yang berarti hasil pengembunan asap knalpotmu bisa kamu minum.
Kemarin-kemarin ketika kuliah sarjana, pernah saya lupa dengan idealisme saya. Terkotori dengan doktrin nilai, bekerja, uang dll sehingga menhapus insting dan idealisme si kecil saya, saya sempat merasa hampa dan bingung apa yang saya cari sebetulnya setelah masuk ITB ini. Lalu setelah mengalami suatu kejadian, idealisme kotor saya mulai terbersihkan dan sekarang naluri idealisme si kecil saya kembali. Strict dengan pengehematan, air, udara, energi, efisiensi, optimasi, hijau, pohon, kebun, sampah, listrik, invention!
Sampai sekarang prinsip mubadzir dalam hal apapun tetap menjadi prinsip saya. bahkan saya sampai merasa sayang membiarkan langganan internet unlimited saya tersia-siakan begitu saja apabila saya tidur, sehingga sebelum saya tidur pasti saya mendownload sesuatu dahulu yang kira-kira beres pas saya bangun. Saya sangat kesal apabila melihat ada orang yang memutuskan dengan mudahnya mengubah tamannya menjadi lapang semen yang ujung-ujungnya ketika hujan tanah dibalik semen tersebut tidak bisa menyerap air dan berujung banjir di tempat lain. Saya melihatnya sebagai bentuk penolakan dia terhadap rahmat Allah. Dan terbukti, ketika hujan dimana-mana ternyata ada yang malah mengalami kelangkaan air. Dari pompa tidak keluar, jetpump pun sama, PDAM pun sama, padahal diluar rumahnya hujan deras turun setiap hari. Sungguh suatu peradaban bodoh. Bahkan dalam hal pengehematan ini, saya selalu mematikan mesin motor saya ketika lampu merah dan menetralkan gigi ketika turunan dan membiarkan motor saya menggelinding dengan sendirinya.
Sampai sekarang sayapun sangat kesal dengan orang yang dengan egoisnya memakai mobil pribadi sehari-hari walau dia bisa menggunakan kakinya atau roda duanya tapi dengan alasan "aman dan nyaman untuk diri sendiri" dengan mengenyampingkan aspek pencemaran lingkungan, pemborosan bahan bakar, pemborosan biaya opersional karena merasa punya cukup uang, kemacetan, kesenjangan sosial, dll memilih menggunakan mobil pribadi. Apalagi ketika menemukan orang omdo yang mulutnya selalu berbicara bagus ttg perbaikan ini itu tapi actionnya tidak ada. Cukup diskusi saja, tidak perlu memikirkan teknis lapangan karena merasa saya kan anak ITB, posisi saya di bidang strategis. Sedangkan untuk hal teknis atau lapangan kan ada SMK atau D3 atau universitas lain. Cuih! Buktinya Rasulullah pun walau jelas ia seorang kepala pemerintahan pintar (posisi strategis) tapi dia tetap "membumi" dengan menjalani kehidupan lapangan seperti apa. Dia bergadang, tidak hanya bercuap-cuap tentang konsep ekonomi, Dia penggembala ternak, tidak hanya tukang mengajak diskusi. Dan seharusnya setiap yang merasa pengikutnya seharusnyalah mencontohnya. Prinsip think globally act localy sepertinya sesuai dengan konteks tadi, dan sayangnya anak ITB banyak yang sangat kurang dalam hal itu. Bagai menjunjung langit yang tak sampai dan kakipun tidak menapak ke bumi.
Sampai sekarang proyek smart house impian saya waktu SD tergambar jelas di kepala saya. Tentang konversi energinya, tentang pengumpulan airnya, tentang pohon hijaunya, dan ditambah ilmu elektronika+telekomuniasi yang saya pelajari di kuliah untuk mengintegrasikan semuanya. Dan sekarang semuanya semakin tergambar jelas dan ingin segera untuk direalisasikan. "Noah ark" project namanya, suatu projek pulau hijau pintar mandiri yang dibangun dari kumpulan barang bekas pakai atau mereka bilang sampah. Generator bahan bakar gas hidroksida (H2 + O2) yang berbasis elektrolisis air pun sudah saya buar blueprint-nya, sekaligus dengan blueprint dari kompor matahari saya dan pembangkir listrik tenaga panas matahari saya (bukan solar panel).
Dan sebentar lagi liburan. Sudah gak sabar nih pengen ngoprek lagi apapun itu kaya waktu saya kecil, tapi tentunya dengan ilmu-ilmu yang sudah jauh lebih berkembang :)
Saya adalah seorang idealis dalam hal lingkungan hidup. Walaupun saya tidak kuliah di teknik lingkungan, tapi saya sangat "fanatik" dan sensitif dengan hal-hal yang berbau; pengehematan, air, udara, energi, efisiensi, optimasi, hijau, pohon, kebun, sampah, listrik, invention.
Dahulu waktu SD, saya sangat menyukai pelajaran IPA yang bagaikan ilmu sulap pikirku saat itu. Dahulu pernah ada tugas membuat rumah-rumahan dan mendekorasinya dengan segala pelajaran IPA yang pernah diterima. Lalu mulailah saya buat rumah tersebut dari aneka kardus bekas dan saya dekorasi menggunakan aneka imajinasi saya. Saya buat box kecil disamping rumah utamanya bertuliskan "pembangkit listrik tenaga air hujan". Tak hanya itu ada lagi "pembangkit listrik tenaga matahari", "kompor tenaga matahari", "penampung air hujan untuk air keperluan sehari-hari", "pohon penyerap air", "tempat sampah pintar", dan sejumlah box battery+saklar yang dihubungkan dengan aneka LED yang saya pasang di penjuru rumah mainan saya dan sangat terlihat indah ketika dinyalakan.
Dahulu waktu SD, saya berharap setiap tetesan air yang jatuh dari langit bisa saya minum atau bisa saya simpan untuk saya minum nantinya. Greedy memang, tapi ilmu "mubadzir" yang diajarkan guru ngaji saya sejak saya kecil sungguh sangat menempel pada saya (sampai sekarang pun). Saya juga pernah mencoba-cba memuat pembangkit listrik tenaga air hujan, suatu penghasil listrik dari kumpulan air hujan di saluran paralon yang terkumpul dari genting dan nantinya akan memutarkan generator (dinamo) kecil yang saya siapkan di kamar saya. Walau listrik yang dihasilkan sungguh sangat kecil hanya cukup untuk menyalakan LED kecil, tapi saya bangga bisa membuatnya.
Dahulu waktu saya SD, saya sangat tertarik apabila melihat suatu pohon besar dan rumput-rumput kecil yang tumbuh dinaungannya. Lalu ada akar nafas pohon yang menjulur kebawah dan meneteskan air yang bisa saya tampung untuk saya minum. Saya selalu berangan-angan kalau saya bisa "kemping" sepanjang hidup saya di taman tersebut bersama teman-teman saya. Sejuk, nyaman, aman, "terfasilitasi", itulah yang ada di pikiran saya ketika membayangkannya. Dan dulu saya menemukan tempat seperti itu di IKIP BANDUNG, suatu perguruan tinggi yang sekarang namanya menjadi UPI yang dahulu sangatlah indah dengan aneka tanaman hijau yang sekarang berubah menjadi lapang semen. Untungnya saya sekarang menemukan tempat seperti itu lagi, bukan secara fisik (jasmani) tentunya, tapi secara rohani.
Dahulu waktu saya SD, saya sangat strict tentang permborosan. Apabila melihat lampu menyala di siang hari tangan saya menjadi sangat gatal ingin mematikannya. Juga apabila melihat kran menyala dan airnya terbuang, pasti akan langsung saya tutup. Insting anak kecil memang, walau tidak bisa menjelaskan kenapa tapi dahulu saya merasa bingung dengan orang dewasa yang melakukan pemborosan seperti itu. Saya pernah berantem dengan teman saya yang dibolehkan oleh ayahnya untuk tidak mematikan lampu kamarnya ketika tidur kalau takut gelap. Saya selalu berpergian menggunakan sepeda karena untuk saya itulah alat bermain yang bisa mengantarkanmu ke tempat tujuanmu dan insting saya bilang kalau sepeda itu sesuai dengan idealisme si kecil saya (yang skrg barulah saya tahu bahwa sepeda adalah the most efficient machine on the planet).
Dahulu waktu saya SD, saya biasanya jarang membuang sampah. Di mata idealisme si kecil saya, saya menganggap tidak ada yang namanya sampah, yang ada hanyalah barang yang belum terpakai untuk bisa digunakan lagi sebagai sesuatu di kemudian hari. Akibatnya saya sangat merasa sayang apabila membuang sampah, walau hanya sebotol aqua atau bungkus permen pun saya merasa ini bisa saya gunakan lagi nantinya. Prinsip mubadzir yang lagi-lagi menempel dengan eratnya. Dan saya sungguh sangat kagum dengan orang yang bisa membuat sesuatu menggunakan sampah. Ada Richie Sowa dengan pulau botol plastiknya dll. Iseng-iseng saya pernah mencoba membuat tabung penghasil kompos dari suatu drum besar yang saya buat lubang dan saya masukan selang untuk memompakan udara kedalamnya. Didalamnya saya membuat filter untuk sampah kasar dan cairan hasilnya. Saya tinggal memasukan sampah organik saya kesana dan sim salabim dalam beberapa minggu jadilah cairan bergizi untuk pohon-pohon kecil yang saya rawat. and it's work!
Dahulu waktu SD, saya berharap bisa membuat suatu kendaraan bebas polusi yang lebaynya bisa mengeluarkan gas bersih yang enak dihirup daripada mengeluarkan suatu gas bau dari knalpot (yang saya masih belum tau apa itu namanya sampai saya SMA). Dan ketika SMA saya baru tahu bahwa gas yg oke untuk dihirup adalah oksigen (campur nitrogen tentunya) dan hasil pembakaran kendaraan bermotor adalah karbondioksida (campur sulfur dll tergantung katalis bensinnya). Dan ketika SMA juga saya baru tahu ada proses namanya electrolysis yang bisa memisahkan H2O menjadi H2 dan O2 dengan listrik. Sungguh suatu sumber bahan bakar yang saya impikan dari SD karena setelah terbakar akan kembali menjadi H2O yang berarti hasil pengembunan asap knalpotmu bisa kamu minum.
Kemarin-kemarin ketika kuliah sarjana, pernah saya lupa dengan idealisme saya. Terkotori dengan doktrin nilai, bekerja, uang dll sehingga menhapus insting dan idealisme si kecil saya, saya sempat merasa hampa dan bingung apa yang saya cari sebetulnya setelah masuk ITB ini. Lalu setelah mengalami suatu kejadian, idealisme kotor saya mulai terbersihkan dan sekarang naluri idealisme si kecil saya kembali. Strict dengan pengehematan, air, udara, energi, efisiensi, optimasi, hijau, pohon, kebun, sampah, listrik, invention!
Sampai sekarang prinsip mubadzir dalam hal apapun tetap menjadi prinsip saya. bahkan saya sampai merasa sayang membiarkan langganan internet unlimited saya tersia-siakan begitu saja apabila saya tidur, sehingga sebelum saya tidur pasti saya mendownload sesuatu dahulu yang kira-kira beres pas saya bangun. Saya sangat kesal apabila melihat ada orang yang memutuskan dengan mudahnya mengubah tamannya menjadi lapang semen yang ujung-ujungnya ketika hujan tanah dibalik semen tersebut tidak bisa menyerap air dan berujung banjir di tempat lain. Saya melihatnya sebagai bentuk penolakan dia terhadap rahmat Allah. Dan terbukti, ketika hujan dimana-mana ternyata ada yang malah mengalami kelangkaan air. Dari pompa tidak keluar, jetpump pun sama, PDAM pun sama, padahal diluar rumahnya hujan deras turun setiap hari. Sungguh suatu peradaban bodoh. Bahkan dalam hal pengehematan ini, saya selalu mematikan mesin motor saya ketika lampu merah dan menetralkan gigi ketika turunan dan membiarkan motor saya menggelinding dengan sendirinya.
Sampai sekarang sayapun sangat kesal dengan orang yang dengan egoisnya memakai mobil pribadi sehari-hari walau dia bisa menggunakan kakinya atau roda duanya tapi dengan alasan "aman dan nyaman untuk diri sendiri" dengan mengenyampingkan aspek pencemaran lingkungan, pemborosan bahan bakar, pemborosan biaya opersional karena merasa punya cukup uang, kemacetan, kesenjangan sosial, dll memilih menggunakan mobil pribadi. Apalagi ketika menemukan orang omdo yang mulutnya selalu berbicara bagus ttg perbaikan ini itu tapi actionnya tidak ada. Cukup diskusi saja, tidak perlu memikirkan teknis lapangan karena merasa saya kan anak ITB, posisi saya di bidang strategis. Sedangkan untuk hal teknis atau lapangan kan ada SMK atau D3 atau universitas lain. Cuih! Buktinya Rasulullah pun walau jelas ia seorang kepala pemerintahan pintar (posisi strategis) tapi dia tetap "membumi" dengan menjalani kehidupan lapangan seperti apa. Dia bergadang, tidak hanya bercuap-cuap tentang konsep ekonomi, Dia penggembala ternak, tidak hanya tukang mengajak diskusi. Dan seharusnya setiap yang merasa pengikutnya seharusnyalah mencontohnya. Prinsip think globally act localy sepertinya sesuai dengan konteks tadi, dan sayangnya anak ITB banyak yang sangat kurang dalam hal itu. Bagai menjunjung langit yang tak sampai dan kakipun tidak menapak ke bumi.
Sampai sekarang proyek smart house impian saya waktu SD tergambar jelas di kepala saya. Tentang konversi energinya, tentang pengumpulan airnya, tentang pohon hijaunya, dan ditambah ilmu elektronika+telekomuniasi yang saya pelajari di kuliah untuk mengintegrasikan semuanya. Dan sekarang semuanya semakin tergambar jelas dan ingin segera untuk direalisasikan. "Noah ark" project namanya, suatu projek pulau hijau pintar mandiri yang dibangun dari kumpulan barang bekas pakai atau mereka bilang sampah. Generator bahan bakar gas hidroksida (H2 + O2) yang berbasis elektrolisis air pun sudah saya buar blueprint-nya, sekaligus dengan blueprint dari kompor matahari saya dan pembangkir listrik tenaga panas matahari saya (bukan solar panel).
Dan sebentar lagi liburan. Sudah gak sabar nih pengen ngoprek lagi apapun itu kaya waktu saya kecil, tapi tentunya dengan ilmu-ilmu yang sudah jauh lebih berkembang :)
Thursday, October 25, 2012
Menjadi Seorang Dijkstra
Mata kuliah Perencanaan Jaringan Telekomunikasi ET6282, adalah sebuah mata kuliah yg inti dari perkuliahannya adalah agar seorang telecommunication engineer bisa merumuskan seperti apa jaringan telekomunikasi yang paling OPTIMUM secara: beban trafik, jarak antar kota (node), dan estimasi biaya ketika penerapan. Sebetulnya sih udah hanya segitu, tapi ternyata kenyataannya ribet bgt!
Berawal dari kesialan tidak datang di pertemuan kuliah minggu pertama, berujung pada pembagian kelompok yang tidak adil dimana saya sendirian sedangkan sisa yang lain bertiga semua. Pembagian kelompok tersebut adalah untuk mengerjakan Tugas Besar yang dikerjakan selama setengah semster yang dicicil dari awal-awal kuliah hingga UTS. Tugas besar tersebut adalah "lakukan perencanaan jaringan telekomunikasi suatu daerah". Nantinya akan dilampirkan kebutuhan trafik, jumlah kota, jarak antar kota, dllnya ttg daerah tersebut. Kesialan pembagian kelompok tadi ternyata tidak hanya sampai situ. Tiap minggu tiap kelompok harus mempresentasikan mengenai alogaritma atau method yg akan tiap kelompok pakai pada langkah2 perencanaan untuk mencapai tugas besar tersebut. Diakhir, alogaritma yang sudah dipilih dan dipresentasikan diawal tersebut harus dipakai oleh kita untuk menyelesaikan suatu masalah yang terjadi.
Kalau dibandingkan dengan jurusan lain, misalnya di Teknik Kimia, saya pernah dengar dari seorang teman ada yang namanya Rancang Pabrik. Tugas besarnya adalah merancang suatu pabrik secara berkelompok dan tiap deadline waktu tertentu harus mengumpulkan laporan dari hasil bagi-bagi tiap langkah/proses yang harus dilakukan. Ternyata dua mata kuliah ini sama. Percis! Hanya beda konteks, kalau ini adalah urusan teknik telekomunikasi, kalau itu adalah urusan teknik kimia. Kalau ini harus diselesaikan dalam setengah semester, kalau itu untuk satu semester. Bedanya lagi, "laporan" pada rancang pabrik diganti menjadi "presentasi" pada makul PJT ini.
Agar tujuan utama mata kuliah PJT tadi bisa tercapai ada langkah-langkah yang perlu dilakukan. Diawali dengan forecasting, lalu clustering, dan chaining. Berikut ini akan saya jabarkan satu persatu secara singkat.
1. Forecasting
Inti dari proses forecasting adalah kita meramalkan tentang kebutuhan masa depan dari suatu daerah.
Dari penambahan populasinya, beban trafik kini dan nanti, sampai trend teknologi jaringan aksesnya. Peramalan itu semua akan menghasilkan gambaran kasar dari kebutuhan telekomunikasi suatu daerah sehingga tergambar untuk jaringan back bonenya harus menggunakan apa? seberapa besar kapasitasnya sehingga kebutuhan masa depan bisa terpenuhi? seperti apa topologi networknya? lalu teknologi jaringan aksesnya seperti apa? wimax? LTE? optik? dan trend selanjutnya apa?
Pada bagian ini, saya terpaksa memilih Causal Forecasting (sebab akibat), suatu cara peramalan yang bukan merupakan time series*. Walau hasil peramalannya seharusnya akan lebih akurat dari model time series, sebetulnya metode peramalan ini cukup susah mengingat variabel yang perlu dihitung menjadi banyak dan rumusannyapun menjadi rumit. Lalu kenapa saya memilih ini? alasannya simple, karena aneka model time series lainnya sudah dipilih oleh kelompok-kelompok yang lain dan juga arahan sayang si pak dosen yg bilang "noval tar jgn yg time series ya, udah kebanyakan. harus beda sama yang lain". Entah apa maksudnya sang dosen menyuruh saya harus beda sendiri dari yang lain, walau diapun tahu kalau kelompok saya hanya sendirian. Terlepas apa alasannya, terpaksalah saya mengambil model peramalan yang ribet -___-
2. Clustering
Pada kali ini saya gamau kalah cepat oleh kelompok lain. Dari awal dibuka "lelang" alogaritma apa yg tiap kelompok akan gunakan, saya sudah memboking alogaritma klustering yang menurut saya paling mudah dipresentasikan dan dipraktekkan. Tak peduli hasil klusteringnya bagus atau buruk, efisien atau tidak, efektif atau tidak, yang penting presentasinya mulus dan prakteknya gampang, pikirku saat itu. Saya memilih Graph Method Clustering suatu metode klustering berdasarkan gambar yang biasa dipakai untuk EST** membedakan bagian DNA di genetika. Tak lupa PCA algorithm*** yang saya tambahakan agar ketika prakteknya menjadi sangat mudah. Ketika saya lihat kelompok lain, entah kenapa mereka kebanyakan mengambil metoda klustering yang ribet. Efeknya ketika presentasi dan ditanya ini itu kebanyakan bingung menjawabnya. Dan saya bisa tersenyum lebar karena sesuai perkiraan, presentasi saya mulus :D Tapi diakhir presentasi sang dosen bertanya "noval yakin metoda klustering ini bisa noval pake buat prakteknya?" lalu tanpa pikir panjang saya jawab dengan yakin, "InsyaAllah bisa pak :)". Lalu sang dosen kembali mengulang pertanyaannya sampai tiga kali dan sayapun tetap pada jawaban saya semula. Sikap sang dosen yang terlihat mencurigakan tersebut baru saya sadari belakangan bahwa ada kekurangan dari metoda klustering yang saya pilih dan akibatnya FATAL (nanti diceritain dibawah).
3. Chaining
Langkah kali ini ternyata tidak sesimple yang dikira. menghabiskan berminggu-minggu pesentasi karena penjabarannya memang banyak. Dari masalah chaining klasik seperti Travelling Salesman Problem yang umumnya dipecahkan dengan Dijkstra Algorithm****, chaining dengan topologi ring, star, mesh, sampai aneka macam spanning tree dengan variabel beban linear (satu variabel) sampai yang nonlinear (multi variabel). Ditambahkan juga penghitungan akhirnya untuk mendapatkan nilai optimum dari aneka variabel yang perlu dihitung tersebut. Karena memang keterbatasan alogaritma yang sudah ditemukan, tiap kelompok akibatnya ada yang bahan presentasinya sama. Dan sialnya kelompok yang presentasinya diakhir diarahkan untuk membuat alogaritma sendiri untuk bahan presentasinya. WTF! Sang dosen memang memotivasi mahasiswanya untuk menemukan sendiri alogaritma lain pada masalah TSP atau spanning tree karena memang sampai saat ini belum ditemukan cara paling efisien dan paling singkat untuk menemukan solusi dari chaining dengan level multi variabel ini. Sebagai sedikit gambaran, misal pada spanning tree, apabila jumlah kota yang perlu dihubungkan adalah n, maka jumlah kemungkinan spanning tree yang bisa dibuat ada sebanyak n^(n-2). Oke keliatannya simple, kalau kotanya ada 3 maka ada 3 kemungkinan spanning tree yang bisa dibuat. Tapi keterusannya, kalau misal kotanya ada 4, ternyata kemungkinannya menjadi 16. Kalau kotanya ada 5 kemungkinannya menjadi 125. WOW!! suatu exponensial yang luar biasa. Karena belum ada alogaritma yang bisa menentukan topologi spanning tree yang menghasilkan nilai optimasi maksimum, maka satu-satunya cara mendapatkan nilai optimum untuk spanning tree multi variabel adalah dengan menghitung tiap kemungkinan spanning tree. Bisa anda bayangkan jumlah yang harus dihitung? belum lagi apabila jumlah variabel bebanya banyak (dan memang pada kenyataannya pasti lebih dari satu), misal: beban trafik dan jarak antar kota. Dari dua variabel saja hitungan untuk mendapatkan optimasi maksimumnya sudah super ribet. Apalagi kalau 3 variabel, maka harus ada matrix 3 dimensi yang dibuat -____-. Belum lagi perhitungan chaining untuk dua daerah yang sebelumnya sudah ada topologi masing-masing (interkoneksi). Bagaiana cara menggabungkannya agar mendapatkan optimasi maksimum? itu yang termasuk dikaji di langkah ini.
Pada bagian inipun untuk presentasi, akhirnya hanya dibatasi dengan masalah 6 kota dan 2 variabel (beban trafik dan jarak kota) sehinggal matrix yang harus diselesaikan adalah matrix 6X6 dengan 6^(6-2) kemungkinan spanning tree. Tapi tetep, ngitung nilai optimasi dari satu kemungkinan aja udh panjang banget, apalagi kalo harus semuanya?? Untungnya sang dosen membolehkan kita memilih bentuk spanning tree yang sudah lazim seperti star dan ring sebagai perbandingan dgn cara yang kita pilih sehingga cukup dihitung 3 kemungkinan dari 6^(6-2) kemungkinan yang ada dan kemungkinan adanya interkoneksi dari 6 kota tersebut.
Beres dengan semua langkah yang sudah dijabarkan, beralih ke problematika nyata!
Untuk permasalahan tugas besar ini sang dosen akhirnya memberikan persoalan:
"Rancang jaringan dari 12 kota yang perlu dihubungkan"
Dilampirkan juga batasan-batasan dan segala kemungkinan yang wajib dihitungnya berupa:
- hitung optimasi apabila tidak ada kluster
- hitung optimasi ketika dibuat sistem kluster dengan anggota masing-masing kluster max 5 kota
- tampilkan kemungkinan topologi star dan ring pada tiap kluster dan nilai optimasinya
- bandingkan dengan topologi hasil alogaritma buatan sendiri yang dipresentasikan
- hitung optimasi inter kluster dengan topologi star atau ring atau buatan sendiri!
dilampirkan matrix trafik T dari keduabelas kota tersebut seperti gambar dibawah
Dari awal saya sudah kaget, "12 kota meeeeeen!!!!!" bakal ada 12^(12-2) kemungkinan spanning tree, gimana ngitungnya?? Tapi ternyata kekagetan saya tidak berhenti sampai disitu, ketika memulai pengerjaan (yang pastinya diawali dengan forecasting dan clustering) pun saya sudah bingung. Envy melihat kelompok lain kerjasama bertiga, sedangkan saya hanya sendirian pun sudah sangat menjatuhkan mental. Akhirnya saya coba kerjakan dan menghitung samapai akhir mendapat nilai optimasi dan perbandingannya dengan topologi yg lazim digunakan.
Ternyata setelah dipresentasikan, nilai optimasinya masih SANGAT JAUH dari suatu ukuran optimal. Masalahnya adalah karena ada kelompok lain yang bisa menemukan nilai yang jauh lebih bagus. Saya ulik-ulik lagi di bagian chainingnya agar bisa mendapatkan yang lebih oke, dan setelah mendapatkan nilai baru, ternyata masih kalah oleh nilai optimasi kelompok lain. @_@ udah bingung bgt itu, soalnya ngitung satu kemungkinan topologi spanning tree baru aja brarti bakal ngitung panjaaaaaaaang bgt ampe juga berubah ke interkoneksi dari klusternya -___-
Setelah merenung panjang,ternyata sumber masalahnya adalah JAUH SEBELUM CHAINING, yaitu ketika melakukan clustering. Karena menggunakan PCA, maka saya (dengan brutalnya) menghilangkan variabel (yang jelas-jelas sangat berpengaruh untuk penentuan optimasi) sehingga hasil klusteringnya walau memang gampang tetapi sungguh jauh dari hasil yang baik. Akibatnya langkah selanjutnya sebagus apapun menjadi sia-sia.
sampailah ke kesimpulan dari yang sudah saya alami ini:
dan deadline tubes ini pun diperpanjang sampai Sabtu, 27 Oktober 2012 karena kebanyakan kelompok mengalami kesusahan yang sama dalam mengerjakannya.
dan entah kenapa di waktu yang sempit ini saya masih sempet2nya nulis blog, padahal masih ada perhitungan yang masih jauh dari selesai dan presentasi sekaligus laporan yang belum dibikin -__-
dan saya mulai berpikir, sebetulnya ini bisa banget dijadiin topik tesis bahkan sampai desertasi sekalian, sampai saya bisa selevel seorang Dijkstra yang menemukan alogaritma baru yang bisa membuat perubahan besar pada umat manusia. oh...
*Time series adalah metoda peramalan yang hanya berdasarkan pada histori sebelumnya
**EST (Expressed Sequence Tag) adala salah satu cara untuk merepresentasikan cara paling luas dalam menuliskan partisi-partisi dari gen
***PCA (Principal Component Analysis) algorithm adalah metode mereduksi jumlah variabel yang menentukan proses klustering. Misal pada koordinat kartesian XY adlah dengan menghilangkan satu dimensinya sehingga titik-titik yang ada bisa di plot ke salah satu dimensi saja dan bisa dilihat yang mana yang dekat yang mana yang jauh untuk dibuat klusternya.
****Dijkstra algorithm adalah alogaritma yang dipakai untuk menemukan rute terpendek dari seseorang yang akan melewati semua kota. Permasalahan ini biasa disebut Travelling Salesman Problem. Lebih lanjutnya alogaritma ini dipakai di banyaaaaak artificial intelegence dari games-games dengan level komputer yang berbeda-beda, misal pada permainan catur atau balap mobil.
Berawal dari kesialan tidak datang di pertemuan kuliah minggu pertama, berujung pada pembagian kelompok yang tidak adil dimana saya sendirian sedangkan sisa yang lain bertiga semua. Pembagian kelompok tersebut adalah untuk mengerjakan Tugas Besar yang dikerjakan selama setengah semster yang dicicil dari awal-awal kuliah hingga UTS. Tugas besar tersebut adalah "lakukan perencanaan jaringan telekomunikasi suatu daerah". Nantinya akan dilampirkan kebutuhan trafik, jumlah kota, jarak antar kota, dllnya ttg daerah tersebut. Kesialan pembagian kelompok tadi ternyata tidak hanya sampai situ. Tiap minggu tiap kelompok harus mempresentasikan mengenai alogaritma atau method yg akan tiap kelompok pakai pada langkah2 perencanaan untuk mencapai tugas besar tersebut. Diakhir, alogaritma yang sudah dipilih dan dipresentasikan diawal tersebut harus dipakai oleh kita untuk menyelesaikan suatu masalah yang terjadi.
Kalau dibandingkan dengan jurusan lain, misalnya di Teknik Kimia, saya pernah dengar dari seorang teman ada yang namanya Rancang Pabrik. Tugas besarnya adalah merancang suatu pabrik secara berkelompok dan tiap deadline waktu tertentu harus mengumpulkan laporan dari hasil bagi-bagi tiap langkah/proses yang harus dilakukan. Ternyata dua mata kuliah ini sama. Percis! Hanya beda konteks, kalau ini adalah urusan teknik telekomunikasi, kalau itu adalah urusan teknik kimia. Kalau ini harus diselesaikan dalam setengah semester, kalau itu untuk satu semester. Bedanya lagi, "laporan" pada rancang pabrik diganti menjadi "presentasi" pada makul PJT ini.
Agar tujuan utama mata kuliah PJT tadi bisa tercapai ada langkah-langkah yang perlu dilakukan. Diawali dengan forecasting, lalu clustering, dan chaining. Berikut ini akan saya jabarkan satu persatu secara singkat.
1. Forecasting
Inti dari proses forecasting adalah kita meramalkan tentang kebutuhan masa depan dari suatu daerah.
Dari penambahan populasinya, beban trafik kini dan nanti, sampai trend teknologi jaringan aksesnya. Peramalan itu semua akan menghasilkan gambaran kasar dari kebutuhan telekomunikasi suatu daerah sehingga tergambar untuk jaringan back bonenya harus menggunakan apa? seberapa besar kapasitasnya sehingga kebutuhan masa depan bisa terpenuhi? seperti apa topologi networknya? lalu teknologi jaringan aksesnya seperti apa? wimax? LTE? optik? dan trend selanjutnya apa?
Pada bagian ini, saya terpaksa memilih Causal Forecasting (sebab akibat), suatu cara peramalan yang bukan merupakan time series*. Walau hasil peramalannya seharusnya akan lebih akurat dari model time series, sebetulnya metode peramalan ini cukup susah mengingat variabel yang perlu dihitung menjadi banyak dan rumusannyapun menjadi rumit. Lalu kenapa saya memilih ini? alasannya simple, karena aneka model time series lainnya sudah dipilih oleh kelompok-kelompok yang lain dan juga arahan sayang si pak dosen yg bilang "noval tar jgn yg time series ya, udah kebanyakan. harus beda sama yang lain". Entah apa maksudnya sang dosen menyuruh saya harus beda sendiri dari yang lain, walau diapun tahu kalau kelompok saya hanya sendirian. Terlepas apa alasannya, terpaksalah saya mengambil model peramalan yang ribet -___-
2. Clustering
Pada kali ini saya gamau kalah cepat oleh kelompok lain. Dari awal dibuka "lelang" alogaritma apa yg tiap kelompok akan gunakan, saya sudah memboking alogaritma klustering yang menurut saya paling mudah dipresentasikan dan dipraktekkan. Tak peduli hasil klusteringnya bagus atau buruk, efisien atau tidak, efektif atau tidak, yang penting presentasinya mulus dan prakteknya gampang, pikirku saat itu. Saya memilih Graph Method Clustering suatu metode klustering berdasarkan gambar yang biasa dipakai untuk EST** membedakan bagian DNA di genetika. Tak lupa PCA algorithm*** yang saya tambahakan agar ketika prakteknya menjadi sangat mudah. Ketika saya lihat kelompok lain, entah kenapa mereka kebanyakan mengambil metoda klustering yang ribet. Efeknya ketika presentasi dan ditanya ini itu kebanyakan bingung menjawabnya. Dan saya bisa tersenyum lebar karena sesuai perkiraan, presentasi saya mulus :D Tapi diakhir presentasi sang dosen bertanya "noval yakin metoda klustering ini bisa noval pake buat prakteknya?" lalu tanpa pikir panjang saya jawab dengan yakin, "InsyaAllah bisa pak :)". Lalu sang dosen kembali mengulang pertanyaannya sampai tiga kali dan sayapun tetap pada jawaban saya semula. Sikap sang dosen yang terlihat mencurigakan tersebut baru saya sadari belakangan bahwa ada kekurangan dari metoda klustering yang saya pilih dan akibatnya FATAL (nanti diceritain dibawah).
3. Chaining
Langkah kali ini ternyata tidak sesimple yang dikira. menghabiskan berminggu-minggu pesentasi karena penjabarannya memang banyak. Dari masalah chaining klasik seperti Travelling Salesman Problem yang umumnya dipecahkan dengan Dijkstra Algorithm****, chaining dengan topologi ring, star, mesh, sampai aneka macam spanning tree dengan variabel beban linear (satu variabel) sampai yang nonlinear (multi variabel). Ditambahkan juga penghitungan akhirnya untuk mendapatkan nilai optimum dari aneka variabel yang perlu dihitung tersebut. Karena memang keterbatasan alogaritma yang sudah ditemukan, tiap kelompok akibatnya ada yang bahan presentasinya sama. Dan sialnya kelompok yang presentasinya diakhir diarahkan untuk membuat alogaritma sendiri untuk bahan presentasinya. WTF! Sang dosen memang memotivasi mahasiswanya untuk menemukan sendiri alogaritma lain pada masalah TSP atau spanning tree karena memang sampai saat ini belum ditemukan cara paling efisien dan paling singkat untuk menemukan solusi dari chaining dengan level multi variabel ini. Sebagai sedikit gambaran, misal pada spanning tree, apabila jumlah kota yang perlu dihubungkan adalah n, maka jumlah kemungkinan spanning tree yang bisa dibuat ada sebanyak n^(n-2). Oke keliatannya simple, kalau kotanya ada 3 maka ada 3 kemungkinan spanning tree yang bisa dibuat. Tapi keterusannya, kalau misal kotanya ada 4, ternyata kemungkinannya menjadi 16. Kalau kotanya ada 5 kemungkinannya menjadi 125. WOW!! suatu exponensial yang luar biasa. Karena belum ada alogaritma yang bisa menentukan topologi spanning tree yang menghasilkan nilai optimasi maksimum, maka satu-satunya cara mendapatkan nilai optimum untuk spanning tree multi variabel adalah dengan menghitung tiap kemungkinan spanning tree. Bisa anda bayangkan jumlah yang harus dihitung? belum lagi apabila jumlah variabel bebanya banyak (dan memang pada kenyataannya pasti lebih dari satu), misal: beban trafik dan jarak antar kota. Dari dua variabel saja hitungan untuk mendapatkan optimasi maksimumnya sudah super ribet. Apalagi kalau 3 variabel, maka harus ada matrix 3 dimensi yang dibuat -____-. Belum lagi perhitungan chaining untuk dua daerah yang sebelumnya sudah ada topologi masing-masing (interkoneksi). Bagaiana cara menggabungkannya agar mendapatkan optimasi maksimum? itu yang termasuk dikaji di langkah ini.
Pada bagian inipun untuk presentasi, akhirnya hanya dibatasi dengan masalah 6 kota dan 2 variabel (beban trafik dan jarak kota) sehinggal matrix yang harus diselesaikan adalah matrix 6X6 dengan 6^(6-2) kemungkinan spanning tree. Tapi tetep, ngitung nilai optimasi dari satu kemungkinan aja udh panjang banget, apalagi kalo harus semuanya?? Untungnya sang dosen membolehkan kita memilih bentuk spanning tree yang sudah lazim seperti star dan ring sebagai perbandingan dgn cara yang kita pilih sehingga cukup dihitung 3 kemungkinan dari 6^(6-2) kemungkinan yang ada dan kemungkinan adanya interkoneksi dari 6 kota tersebut.
Beres dengan semua langkah yang sudah dijabarkan, beralih ke problematika nyata!
Untuk permasalahan tugas besar ini sang dosen akhirnya memberikan persoalan:
"Rancang jaringan dari 12 kota yang perlu dihubungkan"
Dilampirkan juga batasan-batasan dan segala kemungkinan yang wajib dihitungnya berupa:
- hitung optimasi apabila tidak ada kluster
- hitung optimasi ketika dibuat sistem kluster dengan anggota masing-masing kluster max 5 kota
- tampilkan kemungkinan topologi star dan ring pada tiap kluster dan nilai optimasinya
- bandingkan dengan topologi hasil alogaritma buatan sendiri yang dipresentasikan
- hitung optimasi inter kluster dengan topologi star atau ring atau buatan sendiri!
dilampirkan matrix trafik T dari keduabelas kota tersebut seperti gambar dibawah
Dari awal saya sudah kaget, "12 kota meeeeeen!!!!!" bakal ada 12^(12-2) kemungkinan spanning tree, gimana ngitungnya?? Tapi ternyata kekagetan saya tidak berhenti sampai disitu, ketika memulai pengerjaan (yang pastinya diawali dengan forecasting dan clustering) pun saya sudah bingung. Envy melihat kelompok lain kerjasama bertiga, sedangkan saya hanya sendirian pun sudah sangat menjatuhkan mental. Akhirnya saya coba kerjakan dan menghitung samapai akhir mendapat nilai optimasi dan perbandingannya dengan topologi yg lazim digunakan.
Ternyata setelah dipresentasikan, nilai optimasinya masih SANGAT JAUH dari suatu ukuran optimal. Masalahnya adalah karena ada kelompok lain yang bisa menemukan nilai yang jauh lebih bagus. Saya ulik-ulik lagi di bagian chainingnya agar bisa mendapatkan yang lebih oke, dan setelah mendapatkan nilai baru, ternyata masih kalah oleh nilai optimasi kelompok lain. @_@ udah bingung bgt itu, soalnya ngitung satu kemungkinan topologi spanning tree baru aja brarti bakal ngitung panjaaaaaaaang bgt ampe juga berubah ke interkoneksi dari klusternya -___-
Setelah merenung panjang,ternyata sumber masalahnya adalah JAUH SEBELUM CHAINING, yaitu ketika melakukan clustering. Karena menggunakan PCA, maka saya (dengan brutalnya) menghilangkan variabel (yang jelas-jelas sangat berpengaruh untuk penentuan optimasi) sehingga hasil klusteringnya walau memang gampang tetapi sungguh jauh dari hasil yang baik. Akibatnya langkah selanjutnya sebagus apapun menjadi sia-sia.
sampailah ke kesimpulan dari yang sudah saya alami ini:
"sebagus apapun proses chainingnya, apabila metode clusteringnya salah, pasti tidak akan menghasilkan nilai optimasi yang baik." -gopal 2012dan juga
"jangan tergiur dengan proses instan yang mudah. sungguh kekurangan dibaliknya adalah sangat banyak!" -gopal 2012Maka kerjakanlah sesuatu sesuai dengan RUKUNnya, tertib dari forecasting, clustering, dan chaining secara sungguh-sungguh dan jangan mau tawaran-tawaran instan yang menyebabkan kita keluar dari nilai rukun tersebut.
dan deadline tubes ini pun diperpanjang sampai Sabtu, 27 Oktober 2012 karena kebanyakan kelompok mengalami kesusahan yang sama dalam mengerjakannya.
dan entah kenapa di waktu yang sempit ini saya masih sempet2nya nulis blog, padahal masih ada perhitungan yang masih jauh dari selesai dan presentasi sekaligus laporan yang belum dibikin -__-
dan saya mulai berpikir, sebetulnya ini bisa banget dijadiin topik tesis bahkan sampai desertasi sekalian, sampai saya bisa selevel seorang Dijkstra yang menemukan alogaritma baru yang bisa membuat perubahan besar pada umat manusia. oh...
*Time series adalah metoda peramalan yang hanya berdasarkan pada histori sebelumnya
**EST (Expressed Sequence Tag) adala salah satu cara untuk merepresentasikan cara paling luas dalam menuliskan partisi-partisi dari gen
***PCA (Principal Component Analysis) algorithm adalah metode mereduksi jumlah variabel yang menentukan proses klustering. Misal pada koordinat kartesian XY adlah dengan menghilangkan satu dimensinya sehingga titik-titik yang ada bisa di plot ke salah satu dimensi saja dan bisa dilihat yang mana yang dekat yang mana yang jauh untuk dibuat klusternya.
****Dijkstra algorithm adalah alogaritma yang dipakai untuk menemukan rute terpendek dari seseorang yang akan melewati semua kota. Permasalahan ini biasa disebut Travelling Salesman Problem. Lebih lanjutnya alogaritma ini dipakai di banyaaaaak artificial intelegence dari games-games dengan level komputer yang berbeda-beda, misal pada permainan catur atau balap mobil.
Subscribe to:
Posts (Atom)