Thursday, April 24, 2014

Resiko Scuba Diving Untuk Newbie

Saya adalah seseorang yang belum pernah mencoba scuba diving. Biasanya saya hanya nyelam modal pas-pasan, alias freediving (modal tahan nafas+mask+fin). Alasannya simple, selain memang karena scuba diving ini butuh dompet yang tebal, olahraga ini juga banyak aturannya. Tetep harus ada sesi ajar-mengajar di darat (kelas) dahulu sebelum langsung terjun ke air, ga seperti freediving. Cuma karena suatu saat memang saya pengen nyoba juga, jadi ga ada salahnya nyoba belajar dari sekarang, yang gratis tentunya, dari google dan dari teman. Salah satu yang ingin saya bahas sekarang adalah mengenai resiko keracunan oksigen dan decompression sickness ketika scuba diving.

Setelah nonton film Gravity (2013), saya jadi teringat lagi nasehat teman saya yang sudah beberapa kali scubadiving, dia berkata "ntr klo nyelem pake tabung, keluar dari airnya gabisa langsung.. harus ada penyesuaian dulu. kalo ga, tar kmu bisa meledak". Ya benar, meledak, seperti di film gravity ketika jubah+helm astronout kita pecah, otomatis tekanan apapun itu di dalam badan (darah, sel, dll) akan langsung melebur keluar menyesuaikan dengan tekanan luar yang nyaris hampa. Kulit kita akan pecah, darah akan muncrat kemana-mana, dll. Kalo untuk scuba, sebetulnya gambarannya ga sengeri itu juga. Tapi efeknya bisa jadi sama. Sama-sama mendatangkan resiko kematian mendadak.

Ketika akan memulai diving, kita dibekali perlengkapan yang meliputi, antara lain: masker, scuba fin, wet suit, tanki oksigen, set regulator, buoyancy control device(untuk mengatur jumlah udara pada kantung agar divers bisa mengontrol posisi kedalaman), weight belt, dan dive computer. Penting untuk mengenal tangki oksigen scuba diving terkait dengan keselamatan dan kenyamanan kita melakukan scuba diving. Tanki oksigen scuba diving ini tidak seluruhnya berisi oksigen. Seperti komposisi udara di dunia ini, oksigen hanya 20%-nya saja, sementara nitrogen 79%. Yap benar, kita menghirup nitrogen meski nitrogen tidak dimanfaatkan oleh tubuh dan dikeluarkan kembali. Kenapa tanki tidak diisi oksigen sepenuhnya?

Ada yang pernah mendengar cerita tentang seorang bayi prematur, yang ditaruh dalam inkubator, lalu diberi oksigen berlebihan, kemudian menjadi buta. Bukannya oksigen itu penting, jadi kenapa kelebihan oksigen malah menjadi buruk? Oksigen itu memang penting bagi nafas kehidupan, karena jika kekurangan oksigen dapat terjadi hipoksia, bahkan anoksia yang berakhir dengan kematian. Jadi karena oksigen itu baik, kita berpikir tentu menghirup 100% oksigen itu bakal lebih baik lagi untuk tubuh kita. Padahal tidak, malah buruk jadinya. Oksigen yang murni itu bisa menjadi racun jika dipergunakan dengan tidak benar.

Ketika divers menyelam, maka tekanan pada tubuh dan di dalam tubuh berubah. Semakin dalam penyelaman, tekanan semakin besar. Pada kedalaman lebih dari 30 meter, gas nitrogen dan oksigen dalam regulator akan mudah larut dalam darah. Sesuai dengan Hukum Tekanan Dalton,
"Jumlah tekanan pada zat gas sama dengan tekanan pada zat cair" - Dalton
sehingga bertambahnya kedalaman, maka akan semakin banyak tekanan nitrogen dan oksigen pada darah atau singkatnya akan meningkatkan jumlah nitrogen dan oksigen yang larut dalam darah. Keduanya bisa menyebabkan kematian, sehingga harus dikeluarkan lagi dari aliran darah.



Keracunan Oksigen

Ketika kadar oksigen terlarut dalam darah menjadi diatas normal yang disebabkan tekanan air ketika menyelam, setidaknya akan ada tiga gejala efek keracunan oksigen tersebut:

1. Keracunan Oksigen pada Sistem Syaraf Pusat

Efeknya dapat muncul dalam beberapa menit setelah menghirup terlalu banyak oksigen. Gejalanya hampir sama denga gejala pada orang yang epilepsi, sehingga tentu menambah bahaya tenggelam jika terjadi pada penyelam. Terbagi menjadi beberapa fase:

Fase keracunan oksigen yang pertama terjadi adalah fase Pre-Tonic Build-Up, dimana pada fase awal ini dapat dirasakan twitchâ atau gerakan otot kecil pada bibir atau otot muka lainnya (ya, dibalik kulit muka yang tipis itu ada ototnya juga, meskipun kecil-kecil). Dapat dirasakan juga rasa pusing, mual, pernafasan dapat menjadi tidak teratur, susah konsentrasi, kebingungan, mati rasa, dan kesemutan. Muka juga menjadi lebih pucat karena kelebihan oksigen dalam darah menyebabkan vasokonstriksi (penyempitan pembuluh darah) pada muka. Jika gejala ini muncul, segera ganti hirup ke udara biasa saja.

Fase berikutnya adalah fase Tonik, dimana otot-otot menjadi kaku sehingga tidak bisa bernafas, karena yang menggeraknan dada dan perut untuk bernafas itu otot. Dapat berlangsung selama beberapa menit. Lalu diikuti fase Klonik, dimana penderita kejang-kejang selama beberapa menit. Pernafasan mulai bekerja kembali. Fase terakhir adalah fase Relaksasi, dimana otot-otot menjadi lemas, penderita kebingungan atau bengong dan sudah bernafas lagi. Tentu saja jika seorang penyelam mengalami serangan keracunan oksigen ini saat di dalam air, sudah selayaknya teman-temannya membantu membawanya keluar dari air sebelum penyelam tadi makin dalam tenggelam.

Saat fase klonik, penderita harus dipegang agar tidak jatuh. Nah, saat penderita sudah masuk fase relaksasi, Jalur pernafasan (airway) harus dibuka dengan cara kepala diposisikan menengadah, dan mulut harus dibuka. Muntah yang tersisa di mulut sebaiknya dikeluarkan, tapi hati-hati bagi penolong jangan memasukkan jari ke mulut penderita, kalau-kalau terjadi kejang lagi, nanti jari penolong bisa tergigit.

2. Keracunan Oksigen pada Paru-Paru

Saat paru-paru terekspos dengan oksigen yang berlebih dan dalam waktu lama (terus-menerus), terjadi kerusakan secara bertahap. Pertama, terjadi timbunan infiltrat / cairan pada jaringan paru (edema). Lalu terjadi kerusakan pada alveoli dan pembuluh kapiler paru tadi, menyebabkan pendarahan (hemoragi). Setelah itu, tubuh berusaha menyembuhkan dirinya, sehingga daerah yang rusak di paru-paru tadi menjadi lebih tebal dan keras daripada sebelumnya (seperti jika kita luka di kulit, bekas lukanya tentu tidak sebagus kulit sehat sebelumnya, apalagi yang bakat keloid.). Kapasitas paru berkurang karena dinding pembatas antara alveoli dan pembuluh darah kapiler paru tadi menebal. Hal menyebabkan atelektasis, yaitu keadaan anatomis dimana volume ruang udara pada paru berkurang.
Pertama terjadi edema, lalu hemoragi, akhirnya atelektasis.

Adapun keluhan yang dapat muncul adalah: batuk-batuk, rasa nyeri / sakit didalam dada, sulit bernafas, deman, telinga berdenging, mual, muntah, dan kecapaian. Semua gejala tersebut bisa berkurang perlahan dengan cara yang sangat mudah, yaitu berhenti menghirup oksigen berlebihan dan mulai menghirup udara yang biasa (sehari-hari) saja. Udara biasa ini gratis dan kadar oksigennya sesuai untuk orang sehat.

3. Keracunan Oksigen pada Mata

Pada orang dewasa, dapat menjadi rabun jauh (myopia) yang dapat membaik seiring berjalannya waktu. Tetapi pada bayi yang lahir prematur, dapat terjadi kerusakan mata yang sampai kepada kebutaan. Retinopathy of Prematurity (ROP), yaitu terlepasnya retina dari tempatnya di dalam bagian belakang mata. Retina sendiri fungsinya menerima gambaran penglihatan, jadi jika retina tidak pada tempatnya, maka gambaran penglihatan tidak bisa masuk untuk diterima otak. Diduga terjadi karena terpapar oksigen berlebihan menimbulkan celah di antara sel spindel mesenkimal mata. Celah ini mengganggu pembentukan pembuluh darah mata yang normal (yang memberi makan retina).


Lihat retina yang warna kuning itu. Harusnya dia menempel di dinding putih di belakangnya.


Tapi tentu saja retinanya tidak langsung terlepas, tetapi bertahap (ada 5 stage). Maka jika ROP ini sampai terjadi, harus segera diterapi sebelum memberat sampai ke kebutaan. Tapi jangan langsung mencabut selang oksigen dari inkubator bayi yang prematur., karena bayi prematur selain tidak boleh kelebihan oksigen, mereka juga tidak boleh kekurangan oksigen. Jika bayi prematur kekurangan oksigen dapat menyebabkan kerusakan otak bernama Cerebral Palsy.

Decompression Sickness

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, untuk mengeluarkan sisa nitrogen+oksigen dalam darah, divers harus melakukan safety stop, yaitu berhenti sejenak pada kedalaman tertentu. Nah, untuk dapat melayang pada kedalaman tertentu, itulah fungsi buoyancy control device. Dengan udara penuh, maka kita dapat mengapung. Sementara, mengurangi udara membuat kita tenggelam. Ketika safety stop, tekanan akan berubah perlahan karena kedalaman juga dikurangi perlahan. Dengan tekanan yang berkurang, nitrogen+oksigen perlahan akan dikeluarkan dalam darah, hingga kembali normal saat mencapai permukaan air. Oleh karena itu, kecepatan renang menuju permukaan air juga ditentukan.

Adalah penting bagi kita untuk memahami seberapa banyak udara tersisa di dalam tanki, sehingga dapat mengira-ngira waktu yang tepat untuk naik dengan mempertimbangan safety stop. Ketika kita naik ke permukaan, tekanannya akan kembali normal. Namun, jika tekanan berubah normal secara mendadak, maka nitrogen yang masih berada di dalam darah akan menggumpal dan menjadi gelembung dalam pembuluh kapiler darah. Gelembung tersebut dapat menghalangi aliran darah, sehingga menyebabkan kelumpuhan, stroke, atau bahkan kematian, yang disebut dengan decompression sickness. Lebaynya sih seperti meledaknya seorang astronout ketika helm astronoutnya pecah.

Untuk freediver, kasus seperti ini tidak akan terjadi, karena ia hanya menahan nafas saja, tidak sampai mengambil nafas ketika berada didalam air. Resiko bagi freediver hanyalah pengaruh tekanan terhadap rongga telinga dan pengaruh tekanan terhadap rongga hidung. 

Pada saat freediver turun pada kedalaman tertentu, perlu dilakukan penyamaan tekanan udara di rongga telinga dengan tekanan udara dalam air. Ketidakmampuan usaha menyamakan tekanan udara di telinga dengan tekanan udara di luar tubuh dapat menimbulkan rasa nyeri dan pecahnya tympanic membrane. Biasanya terjadi pada kedalaman di bawah 3 m / 10 ft. Untuk menghindari rasa nyeri dan pecahnya tympanic membrane pada saat turun, freediver harus menyakaman tekanan di telinga mereka dengan tekanan udara diluar (pressure equalize). Cara paling mudah yaitu dengan menghembuskan nafas melalui hidung sambil menutup hidung dengan ibu jari dan jari telunjuk atau bersin sambil menutup hidung (squeeze with closed nose). Trust me, it works! Teknik ini dilakukan terus menerus ketika freediver makin turun kekedalaman air yang makin dalam.

Pengaruh pada rongga hidung (sinus) terjadi ketika freediver naik kepermukaan air. Penyamaan tekanan udara pada rongga telinga dan rongga hidung (sinus) ketika naik kepermukaan terjadi secara otomatis. Menahan nafas dapat mengakibatkan gangguan mekanisme penyamaan tekanan udara secara otomatis tersebut, sehingga baiknya ketika seorang freediver hendak menuju permukaan, demi kesehatan hidungnya ia harus sambil mengeluarkan nafas, kalau tidak hidungnya akan terasa sakit seharian dan bisa bersambung ke pusing-pusing. Trust me, it works!

Lalu ketika seorang freediver mengambil nafas panjang dan menahannya, volume paru-parunya akan menyusut karena tekanan air sampai tinggal sebesar kepalan tangan ketika berada di kedalaman +-5m dan akan kembali ke volume normal ketika ke permukaan (skitar 5L). Tapi paru-paru scuba diver tidak akan bernasib seperti itu, hal ini dikarenakan saat menyelam kita tetap bernafas dengan bantuan scuba gear. Jadi sebenarnya yang dipengaruhi terhadap tekanan udara adalah volume dan kepadatan gas didalam tubuh kita bukan organ paru kita.

Ini adalah dasar alasan mengapa seorang scuba diver memiliki dua aturan dasar. Aturan pertama adalah seorang penyelam selalu bernapas, jangan pernah menahan nafas ketika melakukan scuba diving. Aturan kedua adalah penyelam naik kepermukaan scara perlahan-lahan untuk mencegah terjadinya decompression sickness ini.

Perhitungan kedalaman di mana oksigen mulai beracun disebut MOD atau Maximum Oxygen Depth. Tergantung berapa konservatif table yang ingin di gunakan, pada partial pressure 1.2 pun yang ultra konservatif, cerita nya kadar oksigen 21% dalam tabung selam mulai beracun pada 47 meter. Tabel yang umum di anut adalah partial pressuse 1.4 dan 1.6. Pada 1.4 , MOD adalah 56 meter dan pada 1.6 adalah 66 meter.



Deco stop (decompression stop) jangan salah mengertikan dengan safety stop. Safety stop adalah stop pada kedalaman 3 meter yang tidak diharuskan tetapi sangat dianjurkan. Deco stop adalah istilah untuk penyelam yang secara hitungan tabel atau komputer sudah menyerap nitrogen dan oksigen melebihi batas non-decompression dive, sehingga haruslah berhenti di kedalaman tertentu ( tidak selalu 3 meter ), selama beberapa menit (sesuai hitungan table atau komputer ) supaya kadar nitrogen di tubuh penyelam bisa pelan-pelan berkurang dan akhirnya cukup aman.

Untuk mengeluarkan sisa nitrogen dalam tubuh dan menetralkan oksigen dalam tubuh, scuba divers diharapkan tidak mengalami kondisi tekanan yang lebih rendah dari 1 ATM seperti menaiki pesawat selama 48 jam setelah melakukan penyelaman, atau langsung pulang ke rumah di daerah gunung (seperti bandung). Perubahan tekanan yang sangat rendah dengan tiba-tiba akan sangat membahayakan jika masih ada nitrogen dalam tubuh. Berkurangnya tekanan membuat gelembung semakin terperangkap dan tidak bisa keluar dari aliran darah.

Kesimpulannya, untuk yang belum pernah melakukan scuba diving, jangan pernah sekali-kali langsung mencobanya apabila tidak pernah latihan, freediving, atau mengetahui aturan-aturan dari scuba diving tersebut. Semoga artikelnya bermanfaat.




diambil dari :
http://www.medicalera.com
http://the-blues.me

http://www.scubadivingsurabaya.com

Thursday, April 17, 2014

FTPClient

Interesting simple FTP Client for upload and download, using Apache FTPClient hehe :D

1:  import java.io.File;
2:  import java.io.FileInputStream
3:  import java.io.FileOutputStream;  
4:  import java.io.IOException;  
5:  import java.io.InputStream;  
6:  import java.io.PrintWriter;  
7:  import java.util.logging.Level;  
8:  import java.util.logging.Logger;  
9:     
10:  import org.apache.commons.net.PrintCommandListener;  
11:  import org.apache.commons.net.ftp.FTP;  
12:  import org.apache.commons.net.ftp.FTPClient; 
13:  import org.apache.commons.net.ftp.FTPReply;  
14:    
15:  /**  
16:   * This service used for upload file, upload directory, or download file to or from FTP server  
17:   * @author gopal  
18:   */  
19:  public class FTPServices {  
20:     
21:    FTPClient ftp = null;  
22:          
23:    public FTPServices(String host, String user, String pass) throws Exception {  
24:      ftp = new FTPClient();  
25:      ftp.addProtocolCommandListener(new PrintCommandListener(new PrintWriter(System.out)));  
26:      int reply;  
27:        
28:      ftp.connect(host);  
29:      reply = ftp.getReplyCode();  
30:      if (!FTPReply.isPositiveCompletion(reply)) {  
31:        ftp.disconnect();  
32:        throw new Exception("Exception in connecting to FTP Server");  
33:      }  
34:      ftp.login(user, pass);  
35:      ftp.setFileType(FTP.BINARY_FILE_TYPE);  
36:      ftp.enterLocalPassiveMode();  
37:    }  
38:      
39:    public void uploadFile(String localFileFullName, String fileName, String hostDir) throws Exception {  
40:      try(InputStream input = new FileInputStream(new File(localFileFullName))){  
41:        this.ftp.makeDirectory(hostDir);  
42:        this.ftp.storeFile(hostDir + fileName, input);  
43:      }  
44:    }  
45:      
46:    public void uploadDirectory(String remoteDirPath, String localParentDir)  
47:        throws IOException {  
48:    
49:      File localDir = new File(localParentDir);  
50:      File[] subFiles = localDir.listFiles();  
51:      if (subFiles != null && subFiles.length > 0) {  
52:        for (File item : subFiles) {  
53:          String remoteFilePath = remoteDirPath + "/" + item.getName();  
54:    
55:          if (item.isFile()) {  
56:            // upload the file  
57:            String localFilePath = item.getAbsolutePath();  
58:            System.out.println("ABOUT UPLOAD FILE FROM: " + localFilePath);  
59:            try {  
60:              uploadFile(localFilePath, item.getName(), remoteDirPath);  
61:              System.out.println("UPLOADED FILE SUCCESS TO: "+ remoteFilePath);  
62:            } catch (Exception ex) {  
63:              Logger.getLogger(FTPServices.class.getName()).log(Level.SEVERE, null, ex);  
64:            }  
65:              
66:          } else {  
67:            // create directory on the server  
68:            this.ftp.makeDirectory(remoteFilePath);            
69:    
70:            // upload the sub directory  
71:            localParentDir = item.getAbsolutePath();  
72:            uploadDirectory(remoteDirPath, localParentDir);  
73:          }  
74:        }  
75:      }  
76:    }  
77:      
78:    public void downloadFile(String remoteFilePathFullName, String localFilePathFullName) {  
79:      try (FileOutputStream output = new FileOutputStream(localFilePathFullName)) {  
80:        this.ftp.retrieveFile(remoteFilePathFullName, output);  
81:      } catch (IOException e) {  
82:        System.out.println("ERROR DOWNLOAD");  
83:      }  
84:    }  
85:      
86:    public void disconnect(){  
87:      if (this.ftp.isConnected()) {  
88:        try {  
89:          this.ftp.logout();  
90:          this.ftp.disconnect();  
91:        } catch (IOException f) {  
92:        }  
93:      }  
94:    }         
95:  }  

And this is simple example how to use FTPService above, enjoy :)

1:        private final String FTP_SERVER_ADDRESS = "192.168.10.88";  
2:        private final String FTP_USERNAME = "admin";  
3:        private final String FTP_PASSWORD = "admin";  
4:          
5:        System.out.println("50_UPLOAD_FILE_TO_FTP");    
6:        try {  
7:          //open connection FTP  
8:          ftp = new FTPServices(FTP_SERVER_ADDRESS,FTP_USERNAME, FTP_PASSWORD);  
9:          System.out.println("50_FTP_CONNECT");   
10:        } catch (Exception ex) {  
11:          Logger.getLogger(FTPService.class.getName()).log(Level.SEVERE, null, ex);  
12:        }  
13:        try {  
14:          //upload file to FTP  
15:          String localdir = "D:/image.jpg";  
16:          String filename = "image.jpg";  
17:          String hostdir = "UploadFTP/";   
18:            
19:          ftp.uploadFile(localdir, filename, hostdir);  
20:          System.out.println("50_FILE_UPLOADED_TO_FTP");   
21:            
22:        } catch (Exception ex) {  
23:          Logger.getLogger(FTPService.class.getName()).log(Level.SEVERE, null, ex);  
24:        }  
25:        //disconnect from FTP  
26:        ftp.disconnect();  
27:        System.out.println("50_FTP_DISCONNECT");  

Monday, April 7, 2014

Sedikit Sejarah Bank Di Indonesia

Pada postingan sebelumnya saya banyak menjelaskan tentang lembaga yg namanya BANK, yang ternyata fungsinya secara kasar bisa dibilang adalah lembga untuk mengambil alih harta riil dari suatu negri, baik pemerintahannya atau perorangan ke tangan bankir internasional. Banyak contoh2 kasus internasional yg dipaparkan disana melalui narasi permisalan, semoga pembaca sudah bisa menangkap maksudnya. Kalau belum, silakan baca kembali Saya menginginkan seluruh dunia +5% ,, debt based money system dan Bankir, rakyat, dan pemerintah.

Nah untuk postingan kali ini, saya ingin sedikit menjabarkan tentang kisah lembaga yang satu ini di bumi yg kita diami ini, Indonesia.

Tidak banyak yang mengetahui sejarah Bank Indonesia, apalagi mengetahui siapa pemilik Bank Indonesia. Bank Indonesia bukan milik Negara Indonesia, apalagi milik Rakyat Indonesia. Sejatinya Bank Indonesia itu milik IMF (yg ujung2nya adalah kepunyaan bankir internasional, you know who). Karenanya jangan berharap Negara Indonesia bisa mencetak uang sendiri. Dan jangan harap rakyat negeri ini bisa menikmati hidup layak. Hingga darah menetes habis dari tubuh ke tanah, kesenjangan sosial dan pemiskinan tak akan pernah tuntas dari negeri ini. Satu-satunya solusi adalah keluar dari kekangan IMF dan membuat uang sendiri.

Bank sentral, umumnya adalah perusahaan swasta yang diberi monopoli mencetak uang. Bank Sentral Republik Indonesia, semula adalah Bank Nasional Indonesia 46 atau BNI 46. BNI 46, didirikan oleh Presiden Pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno. Namun dipaksa diganti menjadi Nedherland Volkskrediet (NV) DeJavasche Bank. Bank NV DeJavasche adalah Bank milik penjajah Belanda. Atas dukungan internasional (you know who) menolak dan membekukan BNI 46. Dan memaksa Negara Indonesia mendirikan Bank Republik Indonesia (BRI), sebagai pengganti NV DeJavasche Bank yang memiliki monopoli kebijakan keputusan hutang dan tunduk serta dibawah naungan IMF.

Kronologi terbentuknya Bank Indonesia


Saat Indonesia merdeka, Soekarno-Hatta memutuskan untuk mendirikan bank sentral, yaitu Bank Negara 1946. Terbitkan “Oeang Repoeblik Indonesia (ORI). ORI terbit dengan satuan 1 sen samapi Rp 100. Nilai setiap 2 rupiah dijamin dengan 1 gram emas. UU no 19/1946.

Atas berdirinya BNI, Pemerintah penjajah Belanda, dan bankir internasional lain, menolak keberadaan Negara Republik Indonesia (RI) dan BNI 46, sekaligus juga menolak ORI. Buntut dari ditolaknya Kemerdekaan RI, agresi militer, dilakukan oleh Negara imperialis yaitu Amerika, Inggris, Perancis dan memberikan boncengan Belanda masuk kembali ke Indonesia.

Singkat cerita, akhirnya RI dipaksa lewat perundingan, Konferensi Meja Bundar 1949, Negara Republik Indonesia akan diakui keberadaannya (menjadi RIS selanjutnya menjadi NKRI, sebagai negara boneka belanda) dengan beberapa syarat:
  1. Utang perang pemerintah hindia Belanda, harus diambil alih oleh RI muda. Nilainya 4 milar dolar AS. Saat proklamasi, walau memang prematur proklamasinya, RI tidak memiliki utang sedikitpun.
  2. Dengan dalih agar bisa mengambil alih hutang pemerintah penjajah Belanda, BNI 46 harus dihentikan sebagai bank sentral. 
  3. Mengganti BNI 46 dengan De Javasche Bank (yg dulunya milik bankir-bankir kompeni dari keturunan you know who) , bank ini kemudian berganti nama menjadi Bank Indonesia (BI).
  4. dan beberapa syarat teknis lain terkait pemberontakan lain yang ada di Indonesia.
Dengan BNI 46 diganti NV DeJavasche Bank, ORI dihentikan, diganti dengan Uang Bank Indonesia (UBI), sejak 1952. Begitu diakui, tahun 1949, rupiah dipatok sebesar 3.8 per dolar AS. Melorot ke Rp 11.4 per dolar pada 1952, saat ORI diganti menjadi UBI. Saat itulah dimulainya penjajahan jenis baru di negeri ini. Penjajahan ekonomi.

Pada 1965, Presiden Soekarno, memutuskan keluar dari PBB, IMF dan Bank Dunia. Perusahaan-perusahaan asing dinasionalisasi. Karena keberaniannya itu, tahun 1967 pemerintahan Soekarno diakhiri oleh konspirasi para bankir, penguasa dan politisi internasional, termasuk Amerika Serikat dengan jalan “kudeta oleh Soeharto”.

Pada tahun 1967 pula, dimulai ‘pembangunan’ oleh Orde Baru, dengan modal dari IMF, Bank Dunia, dan konsorsium bank lainnya. BI sebagai ‘dompetnya’. Konsensus ini dilakukan di Negara Swiss, termasuk memberikan tambang emas Freeport di Irian Barat, sekarang Papua pada Amerika.

Sejak itu, dari tahun ke tahun, hutang Indonesia membengkak. Pada 2013, mendekati Rp 2000 triliun. 1999, BI dilepas dari Pemerintah RI, dan langsung di bawah kendali IMF (lihat UU no 23 th 1999). Gubernur BI tidak lagi bagian dari Kabinet RI, tidak akuntable kepada Pemerintah RI, apalagi kepada rakyat RI. Dibiayai bukan dari APBN. Pajak yang ditarik dari rakyat sebagian besar dipakai hanya untuk menyicil bunga (serius, hanya bunganya saja) dari hutang pemerintah, sedangkan hutang pokoknya sama sekali tidak tersentuh untuk dibayar (lihat lagi postingann sebelumnya).

Bank sentral umumnya dimiliki oleh perusahaan-perusahaan swasta. Detik ini orang masih bertanya: mengapa pemerintah tidak mencetak uang sendiri? Bank sentral yang tidak langsung dimiliki swasta, “disembunyikan”, di balik undang-undang, sebagai ‘bagian dari negara’. Tapi independen 100 persen. Coba kita buka UU no23 th 1999 ttg Bank Indonesia, kalimat tersebut ada pada pasal 4 ayat 2 ("Bank Indonesia adalah lembaga negara yang independen, bebas dari campur tangan Pemerintah dan/atau pihak-pihak lainnya, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam undang-undang ini.").

Jadi, BI Milik siapa? misteri. Kalau milik negara, mestinya berupa BUMN, masuk APBN, akuntable terhadap rakyat. Meski tidak mengeluarkan saham, BI, mengeluarkan ‘Sertifikat BI’, yang tentu saja dimiliki bank komersial. Sekitar 50 persen, sertifikat BI sekarang milik asing.

Sementara itu, tugas pokok BI, untuk menjaga nilai rupiah tidak pernah bisa dilakukan. Nilai rupiah sudah hancur lebur, hilang 99 persen nilainya. Janji bahwa nilai Rp 2 rupiah = 1 gram emas yang dicanangkan Soekarno hilang ditelan janji bualan para imperialis, kapitalis internasional dan antek-anteknya yang sering disebut di media sebagai ahli ekonomi. Hari ini 1 gram emas setara dengan Rp 520.000. Rakyat RI mengalami 260 ribu kali pemiskinan.

Untuk nutupi kegagalan itu, BI, seperti bankir di manapun, akan melakukan redenominasi. Hari ini redenominasi sudah di mulai. Targetnya, tahun 2014 akan ada uang baru dengan nilai baru yang lebih memiskinkan rakyat, bangsa dan negeri ini dalam kubangan kemiskinan yang semakin parah.

Bagaimana dengan Bank Sentral negara lain?


Marilah kita ambil bank sentral paling berpengaruh saat ini, yaitu Federal Reserve AS, yang menerbitkan dolar AS. Saham terbesar Federal Reserve of America ni dimiliki oleh dua bank besar, yaitu Citibank (15%) dan Chase Manhattan (14%). Sisanya dibagi oleh 25 bank komersial lainnya, antara lain Chemical Bank (8%), Morgan Guaranty Trust (9%) , Manufacturers Hannover (7%), dsb. Sampai pada tahun 1983 sebanyak 66% dari total saham Federal Reserve AS ini, setara dengan 7.005.700 saham, dikuasai hanya oleh 10 bank komersial, sisanya 44% dibagi oleh 17 bank lainnya.

Bahkan, kalau dilihat dengan lebih sederhana lagi, 53% saham Federal Reserve AS dimilik hanya oleh lima besar yang disebutkan di atas. Bahkan, kalau diperhatikan benar, saham yang menentukan pada Federal Reserve Bank of New York, yang menetapkan tingkat dan skala operasinya secara keseluruhan berada di bawah pengaruh bank-bank yang secara langsung dikontrol oleh ‘London Connection’, yaitu, Bank of England, yang dikuasai oleh keluarga Rothschild.

Sama halnya dengan bank-bank sentral di berbagai negara lain, namanya berbau nasionalis, tapi pemilikannya adalah privat. Bank of England, sudah disebutkan sebelumnya, bukan milik rakyat Inggris tapi para bankir swasta, yang sejak 1825 sangat kuat di bawah pengaruh satu pihak saja, keluarga Rothschild. Pengambilalihan oleh keluarga ini terjadi setelah mereka mem-bail out utang negara saat terjadi krisis di Inggris. Deutsche Bundesbank bukanlah milik rakyat Jerman tapi dikuasai oleh keluarga Siemens dan Ludwig Bumberger.

Hong Kong and Shanghai Bank bukan milik warga Hong Kong tapi di bawah kontrol Ernest Cassel. Sama halnya dengan National Bank of Marocco dan National Bank of Egypt didirikan dan dikuasai oleh Cassel yang sama, bukan milik kaum Muslim Maroko atau Mesir. Imperial Ottoman Bank bukan milik rakyat Turki melainkan dikendalikan oleh Pereire Bersaudara, Credit Mobilier, dari Perancis. Demikian seterusnya.



Jadi, ‘Bank-bank Nasional’ seperti ini, sebenarnya, adalah sindikat keuangan inter-nasional, modal ‘antar-bangsa’ yang secara riel tidak ada dalam bentuk aset nyata (specie) apa pun, kecuali dalam bentuk angka-angka nominal di atas kertas atau byte yang berkedap-kedip di permukaan layar komputer. Bank-bank ini sebagian besar dimiliki oleh keluarga-keluarga yang sebagian sudah disebutkan di atas.

Utang-utang yang mereka berikan kepada pemerintahan suatu negara tidak pernah diminta oleh rakyat negara tempat mereka beroperasi tapi dibuat oleh pemerintahan demokratis yang mengatasnamakan warga negara. Mereka, para bankir ini, adalah orang-orang yang tidak dipilih, tak punya loyalitas kebangsaan, dan tidak akuntabel, tetapi mengendalikan kebijakan paling mendasar suatu negara. Dan, setiap kali mereka menciptakan kredit, setiap kali itu pula mereka mencetak uang baru dari byte komputer belaka (fractional reserve banking).

Ada pemaparan dalam bentuk yang lebih menarik untuk melihat sejarah bank centrak di Amerika (Federal Reserve).  Di video dibawah ini dijelaskan bagaimana liciknya para bankir internasional menguasai amerika, dan kisah orang - orang yang menjadi korban ketika mengusahakan pemerintah amerika membuat uangnya sendiri. fractional reserve banking pun disini dijelaskan secara singkat.


Untuk referensi, dibawah ini ada gambar dollar Amerika yg dikeluarkan oleh bank sentralnya (Federal Reserve Note) dan yang sempat dikeluarkan asli oleh pemerintah US ketika pemerintahan JFK (United States Note) dengan executive order 111110.




Ya, Amerika pun sama seperti kita. Pemerintahan mereka dijadikan boneka oleh you know who, dan kita semua sama-sama menjadi korban tipu daya mereka. Apakah selamanya kita ingin seperti ini?

Thursday, February 13, 2014

Realita Kehidupan Sehari-hari

Ada yg menjadikan uang itu sebagai tujuan. Mereka sibuk melakukan apapun demi mengumpulkan uang, halal atau tidak, itu sudah tidak lagi jadi masalah. Dari sistem money oriented ini mereka lupa bahwa walaupun mereka punya semua uang didunia, kalau tidak ada padi untuk dituai, tidak ada ternak untuk disembelih, mereka tidak akan bisa makan apa-apa. Mereka  lupa bahwa uang itu hanyalah alat untuk menuju kekayaan riil yg sebenarnya.

Ada yg menjadikan kekayaan riil itu sebagai tujuan. Mereka sibuk melakukan apapun demi mengumpulkan kekayaan riil tersebut. Tanah, hewan ternak, bangunan, emas, dan semua kekayaan riil yang nyata bisa mereka pakai mereka usahakan agar bisa didapatkan. Mereka tidak tertipu dengan sistem money oriented sekarang karena bisa jadi mereka sendirilah yg menciptakannya untuk menipu manusia lainnya agar menjadi budak mereka. Tapi sayang, mereka lupa bahwa kekayaan riil di dunia itu seharusnya hanyalah alat untuk mendapatkan kebahagiaan yg sebenarnya.

Org yg menjadikan kekayaan di dunia sebagai tujuannya saja sudah dianggap hina di mata Tuhan,
apalagi yg hanya menjadikan uang sebagai tujuannya. Terlalu hina, bahkan di mata manusia biasa sekalipun.

Sunday, January 5, 2014

Bankir, rakyat, dan pemerintah

Uang dalam sebuah masyarakat ibarat darah di dalam tubuh manusia. Kelebihan atau kekurangannya akan menyebabkan tekanan tinggi dan rendah (inflasi dan deflasi).

Kalau orang biasa ditanya berapa banyak uang beredar yang sepantasnya ada dalam sebuah masyarakat, jawaban logisnya adalah tergantung berapa banyak BARANG DAN JASA yang sanggup diperdagangkan oleh komunitas tersebut dalam perdagangan sehari-hari mereka.

Tetapi siapa sebenarnya yang menentukan jumlah uang beredar, dan bagaimana uang diedarkan? (baca juga postingan sebelumnya)

Karena uang hanyalah medium pertukaran barang dan jasa di dalam komunitas tersebut, untuk melayani masyarakat tersebut, logisnya adalah tak seorangpun yang berhak mengambil keuntungan dari pengadaan uang. Orang yang berproduksi pantas mendapatkan uang, dan orang yang tidak berproduksi tidak mendapatkan apa-apa.

Petani menghasilkan hasil tani, nelayan mencari ikan dan hasil laut, penenun kain membuat pakaian, tukang masak mengolah hasil tani menjadi makanan, tukang kayu membuat bangunan dan perkakas rumah, orang-orang terdidik menjadi guru di sekolah, dll. Semua orang mengerjakan dan memberikan kontribusi ke masyarakat sesuai kemampuannya. Uang harusnya diciptakan OLEH komunitas tersebut UNTUK melayani komunitas tersebut.

Tetapi kemudian sekelompok kecil anggota komunitas tersebut, yang diberkati dengan daya pikir yang lebih tajam, sekaligus keserakahan yang tak terhingga, memahami bahwa mereka bisa TIDAK memberikan kontribusi apapun tetapi memiliki segala-galanya di masyarakat tersebut. Kelompok ini adalah "Pengada (Pencipta) Medium Uang."

Kalau demi memiliki uang dan menghindari sistem barter yang merepotkan, masyarakat tersebut rela MEMINJAM uang kepada kelompok tersebut, maka masyarakat ini secara de facto telah menjadi budak abadi dari kelompok pencipta uang itu.

Misalkan : masyarakat ini terdiri dari 100 penduduk. Ada yang jadi petani, nelayan, tukang kayu, penenun kain, tukang masak, penambang, guru dll.

Kemudian sang Pencipta Uang, katakanlah seorang penambang emas, berhasil membujuk masyarakat tersebut untuk menggunakan koin emas buatannya sebagai medium pertukaran (uang). Semua orang membeli emas darinya, dan sebagai gantinya memberikan barang / jasa tertentu kepadanya. Yang lain, karena tidak memiliki barang, akhirnya harus meminjam kepada tukang emas tersebut.

Bila tukang emas ini meminjamkan 1000 koin emas dan menagih 5% bunga kepada masyarakat ini, maka tanpa menggunakan hukum bunga-berbunga sekalipun, dalam waktu 20 tahun tukang emas ini akan memiliki semua koin emas dia kembali, dan masyarakat ini masih tetap berhutang 1000 koin emas kepadanya.

Saat itu, tak satu pun koin beredar di masyarakat, sehingga tidak mungkin masyarakat tersebut sanggup membayar. Tentu saja, dalam prakteknya, memasuki tahun ke-2 sekalipun tukang emas tersebut sudah harus meminjamkan koin emasnya kepada anggota masyarakat ini, tukang emas ini tidak ingin bunga yang dia terima membuat suplai uang di masyarakat menurun, karena nantinya skema ini akan terbongkar.

Penurunan suplai uang di komunitas manapun selalu menciptakan resesi / depresi ekonomi. Agar sistem ini tidak gagal, komunitas tersebut harus terus mengajukan pinjaman baru, agar saat bunga / cicilan pokok pinjaman lama dibayarkan, suplai uang di komunitas tersebut tidak berkurang.

Tidak masalah medium apa yang Anda gunakan sebagai uang, selama sang pencipta uang adalah pemilik medium uang (bukannya masyarakat itu sendiri) dan berhak menagih bunga atas pinjamannya, masyarakat ini tidak akan pernah sanggup melepaskan diri dari perbudakan bunga, siklus inflasi dan resesi.

Karena kemampuan komunitas tersebut untuk berhutang ada batasnya, dan akibat bunga pinjaman yang harus mereka bayarkan, sebagian anggota komunitas tersebut pun jatuh miskin pada tahun-tahun pembayaran berikutnya. Manusia, sebagai makluk sosial, menyadari bahwa anggota masyarakat yang tidak beruntung ini tidak bisa dibiarkan begitu saja dan perlu dibantu. Maka diciptakanlah sebuah institusi sederhana untuk membantu mereka, yaitu Pemerintah, yang juga akan berfungsi untuk mengatur hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak.

Tetapi, karena dari tahun ke tahun semakin banyak uang yang diperlukan untuk membantu anggota masyarakat yang tidak beruntung ini, skala pemerintah dan uang yang diperlukan untuk membiayai mereka pun terus bertambah besar.

Pemerintah, yang didirikan untuk menjadi penolong, perlahan-lahan justru berubah menjadi penodong. Jangan lupa, anggota pemerintah pun orang-orang biasa yang perlu makan dan memiliki kebutuhan lainnya. Jadi, sebelum uang yang dikumpulkan masyarakat untuk membantu orang miskin ini digunakan, sebagian uang tersebut pun masuk ke kantong anggota pemerintah terlebih dahulu.

Semakin besar jumlah orang miskin yang perlu dibantu, semakin besar skala pemerintah di komunitas tersebut. Semakin banyak usaha yang jatuh bangkrut, semakin sering juga pemeritah mengambil alih usaha-usaha tersebut, dan semakin banyak uang juga yang perlu dibayar anggota komunitas yang masih produktif dan belum bangkrut (*pajak). Suatu ketika, saat uang yang sanggup dikumpulkan dari masyarakat yang masih produktif pun tidak mencukupi lagi, pemerintah, sebagai sebuah institusi, pun mulai mengajukan pinjaman kepada si pencipta uang (dalam contoh di atas, si tukang emas)

(*Pajak : bedakan pajak yang ditarik untuk membantu orang miskin, pembangunan infrastruktur, gaji anggota pemerintah, Vs pajak untuk membayar cicilan hutang pemerintah. Kalau Anda mengira pajak yang Anda bayarkan setiap bulan semuanya digunakan untuk membantu orang miskin di Indonesia, memperbaiki jalan, sekolah, tempat ibadah dll, sebaiknya Anda mengecek dengan mata sendiri betapa besarnya anggaran pemerintah yang digunakan untuk membayar cicilan hutang & pokok kepada bankir internasional.)

Pemerintah, akhirnya pun terpojok untuk terus memaksa rakyatnya membayar lebih banyak lagi tagihan pajak, bea ini bea itu, pungutan jinak, pungutan liar, dll. Sekarang posisinya menjadi Pemerintah Vs Rakyat.

Orang-orang yang tidak setuju dengan kebijakan pemerintah pun mulai membuat kelompok (partai) baru, seolah-olah mereka bisa menyelesaikan masalah, mengembalikan skala pemerintah ke skala yang lebih kecil, dan mengurangi pajak dan pungutan kepada masyarakat produktif mereka.

Puluhan partai didirikan untuk berdebat satu sama lain, tetapi tak seorang pun yang bersedia mendebat asal usul uang mereka, tak seorang pun membicarakan si tukang emas. Mungkin memang itulah fungsi utama sistem demokrasi, agar si tukang emas lebih gampang mempertahankan kekuasaan. Bagaimanapun, jauh lebih gampang menyuap beberapa ratus anggota parlemen dibanding menyuap mayoritas rakyat di suatu negara.

Keadaan dari tahun ke tahun bertambah kacau, jumlah orang miskin terus bertambah dari generasi ke generasi. Anak-anak muda mulai khawatir akan masa depan mereka, dan tak mengerti mengapa generasi ini tampaknya lebih miskin dibanding generasi sebelumnya, dan kelihatannya anak-anak mereka sendiri akan lebih miskin dibanding mereka sendiri saat ini.

Polisi, tentara, yang seharusnya ada untuk melindungi rakyatnya, suatu ketika akan digunakan oleh si tukang emas sebagai senjata untuk melawan rakyatnya. Ironisnya, si tukang emas ini bahkan tidak perlu repot-repot menggaji polisi dan tentara. Gaji mereka dibayar oleh pajak rakyat yang mereka tindas.

Tahun ini Indonesia akan kembali menyelenggarkan Pemilu. Kalau tidak ada kejutan, lagi-lagi puluhan partai politik akan berdebat dan menyanyikan janji-janji manis kepada orang-orang yang ingin percaya. Dan lagi-lagi tak sebuah partai pun yang akan menyinggung si tukang emas saat ini, BANK (mulai dari Bank Sentral, dan kemudian ke Bank-Bank Komersial yang menciptakan mayoritas uang beredar di negara ini).

Kita masih berada dalam perbudakan bunga bank, tidak berubah sejak sebelum merdeka. Dan bank-bank komersial pun masih tetap mempraktekkan fractional reserve banking, tidak berubah sejak ratusan tahun lalu.

Kontrol atas kredit masih di tangan bankir, bukan di tangan rakyat. Jadi... Nothing is going to change, nothing!

Tahun depan, saat pinjaman tak terbayar rakyat USA memuncak, konsumsi mereka akan menurun tajam. Ketika mereka berhenti konsumsi, toko-toko distributor utama di Amerika akan mengurangi order ke pabrik-pabrik di Asia dan Eropa. Kurangnya order kemudian diikuti dengan PHK masal di Asia dan Eropa, dan kemudian toko-toko retail di Asia dan Eropa pun akan mulai jatuh bangkrut dan tidak bisa membayar pinjaman ke bank-bank komerisial lokal mereka.

Hanya orang-orang (& perusahaan) yang paling sedikiti dibiayai oleh hutanglah yang bisa keluar dari krisis kali ini. Sisanya akan jatuh bangkrut dan aset mereka akan diambilalih para bankir. 2-3 tahun ke depan, para "tukang emas" akan menikmati sensasi konsolidasi mereka, bisnis-bisnis akan jatuh ke lebih sedikit tangan, kompetisi akan berkurang (termasuk bisnis perbankan). Mimpi mereka untuk meMONOPOLI semua aset semakin mendekati kenyataan. "Last Man Standing."

Di sisi lain, orang-orang miskin terus bertambah. Anak-anak tidak sanggup sekolah, orang yang masih memiliki pekerjaan pun mulai berpikir untuk korupsi lebih banyak karena gaji tidak mencukupi, sebagian lagi mencari solusi lewat perjudian, prostitusi, perdagangan obat terlarang, dan hubungan internal keluarga juga memburuk. Hubungan antar orang di masyarakat pun tidak bertambah baik, orang-orang sibuk memikirkan bagaimana mereka harus makan, tak ada lagi waktu untuk bersosialisasi secara suka rela, kemunafikan pun bertambah... Kriminalitas akan meningkat tajam, dan tak banyak yang bisa dilakukan.

Percayakah Anda?
Bila Anda tidak menghentikan sistem ini sekarang, bila Anda tidak mengekspos kejahatan perbankan sekarang, maka akan tiba suatu hari.. di mana saat Anda mempertaruhkan nyawa Anda sekalipun, Anda tidak akan punya peluang lagi untuk menang. Semua aset, utilitas umum, militer, media, pendidikan, kepolisian, konglomerasi pertanian, perkebunan, pertambangan, gudang nasional makanan dan distribusinya, semuanya sudah dalam genggaman "tukang emas".

Mulailah bercerita, "Silence is Acceptance."

Friday, January 3, 2014

Rasa aman itu racun

“You don’t realy know what you’ve got till it’s gone..”

For me, it happens, a lot..



Jakarta yg katanya panas, dan memang benar. Setidaknya itu yg saya tulis di blog ini sekitar 2 bulan lalu, tapi kini tidak lagi. Seneng? Harusnya sih iya. Tapi kayaknya ada yang salah..

Bukannya saya tidak bersyukur, tapi sepertinya kurang pas. Layaknya neraka yang seharusnya panas, dan surga yang seharusnya adem, kalau dibalik malah jadi aneh. Sekarang dimana jakarta yg panas itu?

Semua berawal ketika saya pindah kosan, dari kosan dahulu yg saya ceritakan di postingan blog sebelumnya, ke tempat sekarang yang lebih mirip nostalgia saya waktu jaman SD. Luas, lapang, dingin, murah, bebas nyamuk, laundry gratis, dan ada kulkas O_o! Satu lagi keuntungannya adalah deket kantor. Saya cukup berjalan 10 menit dan sim salabim sampailah di kantor. Tidak ada lagi cerita melihat demo di bundaran HI, kejebak macet, nungguin busway yang ga dateng2, semuanya begitu praktis ditambah dengan harga makanan di deket kosan baru ini yg bisa dibilang sangat murah.

Pada awalnya memang itu semua yang saya cari. Lepas dari kehidupan kosan sebelumnya menuju tempat yang lebih nyaman.

Tapi.. baru sekarang saya sadari, saya takut. Rasa aman itu racun, dan itu benar! Saya takut semua kenyamanan ini membuat saya makin malas gerak, malas berubah, merasa cukup dan malas mencari kehidupan lain yang lebih baik lagi. Dan sungguh, sekarang saya sangat merindukan masa-masa penderitaan itu.

--------------------------------------------------------

Side story---

Kemarin-kemarin tumben AC di kantor rusak, dan ruangan tempat saya kerja berubah jadi sauna. Semua orang mengeluh, kecuali saya. Bagiku inilah jakarta yang sebenarnya :D Jakarta yang saya rindukan, Jakarta yang bisa memaksa saya mencari sesuatu yang lebih baik.

Wednesday, December 4, 2013

Bahwa Pelaut Yang Tangguh Dihasilkan Bukan Oleh Laut Yang Tenang, Tapi Oleh Laut Yang Ganas

------------------------------------------------------------------
"Allahu somad" -Allah tempat bergantung-
------------------------------------------------------------------
Terdengar gampang dan mudah diucapkan.. kenyataannya susah sekali dilaksanakan.
Sampaikan Muhammad yg lahir tanpa ayah, lalu masih kecil ibunya meninggal, diasuh kakeknya dan kakeknyapun meninggal, diasuh pamannya sampai menjadi nabi dan oleh Allah pun pamannya yg diandalkan mengurus masalah keamanan meninggal, berbarengan dgn khadijah yg diandalkan sebagai sumber keuangan.

Tapi bukan berarti Allah tidak memberikan solusi..

Isra miraj, perintah solat, berkepemipinan, perapihan shaf. Allah bilang itulah solusimu untuk masalah keamanan, masalah ekonomi, dan semua masalah lainnya agar bergantung hanya kepada Allah, bukan kepada yg lain.

----------------------------------------------

jika suatu saat Allah mengambil tempat bergantungmu, org2 yg kamu sayangi (lagi), siapkah kamu?
pertanyaan retoris memang, tapi pelaksanaan jawabannya tidak semudah mengucapkannya