Thursday, October 25, 2012

Menjadi Seorang Dijkstra

Mata kuliah Perencanaan Jaringan Telekomunikasi ET6282, adalah sebuah mata kuliah yg inti dari perkuliahannya adalah agar seorang telecommunication engineer bisa merumuskan seperti apa jaringan telekomunikasi yang paling OPTIMUM secara: beban trafik, jarak antar kota (node), dan estimasi biaya ketika penerapan. Sebetulnya sih udah hanya segitu, tapi ternyata kenyataannya ribet bgt!

Berawal dari kesialan tidak datang di pertemuan kuliah minggu pertama, berujung pada pembagian kelompok yang tidak adil dimana saya sendirian sedangkan sisa yang lain bertiga semua. Pembagian kelompok tersebut adalah untuk mengerjakan Tugas Besar yang dikerjakan selama setengah semster yang dicicil dari awal-awal kuliah hingga UTS. Tugas besar tersebut adalah "lakukan perencanaan jaringan telekomunikasi suatu daerah". Nantinya akan dilampirkan kebutuhan trafik, jumlah kota, jarak antar kota, dllnya ttg daerah tersebut. Kesialan pembagian kelompok tadi ternyata tidak hanya sampai situ. Tiap minggu tiap kelompok harus mempresentasikan mengenai alogaritma atau method yg akan tiap kelompok pakai pada langkah2 perencanaan untuk mencapai tugas besar tersebut. Diakhir, alogaritma yang sudah dipilih dan dipresentasikan diawal tersebut harus dipakai oleh kita untuk menyelesaikan suatu masalah yang terjadi.

Kalau dibandingkan dengan jurusan lain, misalnya di Teknik Kimia, saya pernah dengar dari seorang teman ada yang namanya Rancang Pabrik. Tugas besarnya adalah merancang suatu pabrik secara berkelompok dan tiap deadline waktu tertentu harus mengumpulkan laporan dari hasil bagi-bagi tiap langkah/proses yang harus dilakukan. Ternyata dua mata kuliah ini sama. Percis! Hanya beda konteks, kalau ini adalah urusan teknik telekomunikasi, kalau itu adalah urusan teknik kimia. Kalau ini harus diselesaikan dalam setengah semester, kalau itu untuk satu semester. Bedanya lagi, "laporan" pada rancang pabrik diganti menjadi "presentasi" pada makul PJT ini.

Agar tujuan utama mata kuliah PJT tadi bisa tercapai ada langkah-langkah yang perlu dilakukan. Diawali dengan forecasting, lalu clustering, dan chaining. Berikut ini akan saya jabarkan satu persatu secara singkat.

1. Forecasting
Inti dari proses forecasting adalah kita meramalkan tentang kebutuhan masa depan dari suatu daerah.
Dari penambahan populasinya, beban trafik kini dan nanti, sampai trend teknologi jaringan aksesnya. Peramalan itu semua akan menghasilkan gambaran kasar dari kebutuhan telekomunikasi suatu daerah sehingga tergambar untuk jaringan back bonenya harus menggunakan apa? seberapa besar kapasitasnya sehingga kebutuhan masa depan bisa terpenuhi? seperti apa topologi networknya? lalu teknologi jaringan aksesnya seperti apa? wimax? LTE? optik? dan trend selanjutnya apa?
Pada bagian ini, saya terpaksa memilih Causal Forecasting (sebab akibat), suatu cara peramalan yang bukan merupakan time series*. Walau hasil peramalannya seharusnya akan lebih akurat dari model time series, sebetulnya metode peramalan ini cukup susah mengingat variabel yang perlu dihitung menjadi banyak dan rumusannyapun menjadi rumit. Lalu kenapa saya memilih ini? alasannya simple, karena aneka model time series lainnya sudah dipilih oleh kelompok-kelompok yang lain dan juga arahan sayang si pak dosen yg bilang  "noval tar jgn yg time series ya, udah kebanyakan. harus beda sama yang lain". Entah apa maksudnya sang dosen menyuruh saya harus beda sendiri dari yang lain, walau diapun tahu kalau kelompok saya hanya sendirian.  Terlepas apa alasannya, terpaksalah saya mengambil model peramalan yang ribet -___-

2. Clustering
Pada kali ini saya gamau kalah cepat oleh kelompok lain. Dari awal dibuka "lelang" alogaritma apa yg tiap kelompok akan gunakan, saya sudah memboking alogaritma klustering yang menurut saya paling mudah dipresentasikan dan dipraktekkan. Tak peduli hasil klusteringnya bagus atau buruk, efisien atau tidak, efektif atau tidak, yang penting presentasinya mulus dan prakteknya gampang, pikirku saat itu. Saya memilih Graph Method Clustering suatu metode klustering berdasarkan gambar yang biasa dipakai untuk EST** membedakan bagian DNA di genetika. Tak lupa PCA algorithm*** yang saya tambahakan agar ketika prakteknya menjadi sangat mudah. Ketika saya lihat kelompok lain, entah kenapa mereka kebanyakan mengambil metoda klustering yang ribet. Efeknya ketika presentasi dan ditanya ini itu kebanyakan bingung menjawabnya. Dan saya bisa tersenyum lebar karena sesuai perkiraan, presentasi saya mulus :D Tapi diakhir presentasi sang dosen bertanya "noval yakin metoda klustering ini bisa noval pake buat prakteknya?" lalu tanpa pikir panjang saya jawab dengan yakin, "InsyaAllah bisa pak :)". Lalu sang dosen kembali mengulang pertanyaannya sampai tiga kali dan sayapun tetap pada jawaban saya semula. Sikap sang dosen yang terlihat mencurigakan tersebut baru saya sadari belakangan bahwa ada kekurangan dari metoda klustering yang saya pilih dan akibatnya FATAL (nanti diceritain dibawah).

3. Chaining
Langkah kali ini ternyata tidak sesimple yang dikira. menghabiskan berminggu-minggu pesentasi karena penjabarannya memang banyak. Dari masalah chaining klasik seperti Travelling Salesman Problem yang umumnya dipecahkan dengan Dijkstra Algorithm****, chaining dengan topologi ring, star, mesh, sampai aneka macam spanning tree dengan variabel beban linear (satu variabel) sampai yang nonlinear (multi variabel). Ditambahkan juga penghitungan akhirnya untuk mendapatkan nilai optimum dari aneka variabel yang perlu dihitung tersebut. Karena memang keterbatasan alogaritma yang sudah ditemukan, tiap kelompok akibatnya ada yang bahan presentasinya sama. Dan sialnya kelompok yang presentasinya diakhir diarahkan untuk membuat alogaritma sendiri untuk bahan presentasinya. WTF! Sang dosen memang memotivasi mahasiswanya untuk menemukan sendiri alogaritma lain pada masalah TSP atau spanning tree karena memang sampai saat ini belum ditemukan cara paling efisien dan paling singkat untuk menemukan solusi dari chaining dengan level multi variabel ini. Sebagai sedikit gambaran, misal pada spanning tree, apabila jumlah kota yang perlu dihubungkan adalah n, maka jumlah kemungkinan spanning tree yang bisa dibuat ada sebanyak n^(n-2). Oke keliatannya simple, kalau kotanya ada 3 maka ada 3 kemungkinan spanning tree yang bisa dibuat. Tapi keterusannya, kalau misal kotanya ada 4, ternyata kemungkinannya menjadi 16. Kalau kotanya ada 5 kemungkinannya menjadi 125. WOW!! suatu exponensial yang luar biasa. Karena belum ada alogaritma yang bisa menentukan topologi spanning tree yang menghasilkan nilai optimasi maksimum, maka satu-satunya cara mendapatkan nilai optimum untuk spanning tree multi variabel adalah dengan menghitung tiap kemungkinan spanning tree. Bisa anda bayangkan jumlah yang harus dihitung? belum lagi apabila jumlah variabel bebanya banyak (dan memang pada kenyataannya pasti lebih dari satu), misal: beban trafik dan jarak antar kota. Dari dua variabel saja hitungan untuk mendapatkan optimasi maksimumnya sudah super ribet. Apalagi kalau 3 variabel, maka harus ada matrix 3 dimensi yang dibuat -____-. Belum lagi perhitungan chaining untuk dua daerah yang sebelumnya sudah ada topologi masing-masing (interkoneksi). Bagaiana cara menggabungkannya agar mendapatkan optimasi maksimum? itu yang termasuk dikaji di langkah ini.
Pada bagian inipun untuk presentasi, akhirnya hanya dibatasi dengan masalah 6 kota dan 2 variabel (beban trafik dan jarak kota) sehinggal matrix yang harus diselesaikan adalah matrix 6X6 dengan 6^(6-2) kemungkinan spanning tree. Tapi tetep, ngitung nilai optimasi dari satu kemungkinan aja udh panjang banget, apalagi kalo harus semuanya?? Untungnya sang dosen membolehkan kita memilih bentuk spanning tree yang sudah lazim seperti star dan ring sebagai perbandingan dgn cara yang kita pilih sehingga cukup dihitung 3 kemungkinan dari 6^(6-2) kemungkinan yang ada dan kemungkinan adanya interkoneksi dari 6 kota tersebut.

Beres dengan semua langkah yang sudah dijabarkan, beralih ke problematika nyata!
Untuk permasalahan tugas besar ini sang dosen akhirnya memberikan persoalan:
"Rancang jaringan dari 12 kota yang perlu dihubungkan"
Dilampirkan juga batasan-batasan dan segala kemungkinan yang wajib dihitungnya berupa:
- hitung optimasi apabila tidak ada kluster
- hitung optimasi ketika dibuat sistem kluster dengan anggota masing-masing kluster max 5 kota
- tampilkan kemungkinan topologi star dan ring pada tiap kluster dan nilai optimasinya
- bandingkan dengan topologi hasil alogaritma buatan sendiri yang dipresentasikan
- hitung optimasi inter kluster dengan topologi star atau ring atau buatan sendiri!

dilampirkan matrix trafik T dari keduabelas kota tersebut seperti gambar dibawah


Dari awal saya sudah kaget, "12 kota meeeeeen!!!!!" bakal ada 12^(12-2) kemungkinan spanning tree, gimana ngitungnya?? Tapi ternyata kekagetan saya tidak berhenti sampai disitu, ketika memulai pengerjaan (yang pastinya diawali dengan forecasting dan clustering) pun saya sudah bingung. Envy melihat kelompok lain kerjasama bertiga, sedangkan saya hanya sendirian pun sudah sangat menjatuhkan mental. Akhirnya saya coba kerjakan dan menghitung samapai akhir mendapat nilai optimasi dan perbandingannya dengan topologi yg lazim digunakan.

Ternyata setelah dipresentasikan, nilai optimasinya masih SANGAT JAUH dari suatu ukuran optimal. Masalahnya adalah karena ada kelompok lain yang bisa menemukan nilai yang jauh lebih bagus. Saya ulik-ulik lagi di bagian chainingnya agar bisa mendapatkan yang lebih oke, dan setelah mendapatkan nilai baru, ternyata masih kalah oleh nilai optimasi kelompok lain. @_@ udah bingung bgt itu, soalnya ngitung satu kemungkinan topologi spanning tree baru aja brarti bakal ngitung panjaaaaaaaang bgt ampe juga berubah ke interkoneksi dari klusternya -___-

Setelah merenung panjang,ternyata sumber masalahnya adalah JAUH SEBELUM CHAINING, yaitu ketika melakukan clustering. Karena menggunakan PCA, maka saya (dengan brutalnya) menghilangkan variabel (yang jelas-jelas sangat berpengaruh untuk penentuan optimasi) sehingga hasil klusteringnya walau memang gampang tetapi sungguh jauh dari hasil yang baik. Akibatnya langkah selanjutnya sebagus apapun menjadi sia-sia.

sampailah ke kesimpulan dari yang sudah saya alami ini:

"sebagus apapun proses chainingnya, apabila metode clusteringnya salah, pasti tidak akan menghasilkan nilai optimasi yang baik." -gopal 2012
dan juga
"jangan tergiur dengan proses instan yang mudah. sungguh kekurangan dibaliknya adalah sangat banyak!" -gopal 2012
Maka kerjakanlah sesuatu sesuai dengan RUKUNnya, tertib dari forecasting, clustering, dan chaining secara sungguh-sungguh dan jangan mau tawaran-tawaran instan yang menyebabkan kita keluar dari nilai rukun tersebut.

dan deadline tubes ini pun diperpanjang sampai Sabtu, 27 Oktober 2012 karena kebanyakan kelompok mengalami kesusahan yang sama dalam mengerjakannya.

dan entah kenapa di waktu yang sempit ini saya masih sempet2nya nulis blog, padahal masih ada perhitungan yang masih jauh dari selesai dan presentasi sekaligus laporan yang belum dibikin -__-

dan saya mulai berpikir, sebetulnya ini bisa banget dijadiin topik tesis bahkan sampai desertasi sekalian, sampai saya bisa selevel seorang Dijkstra yang menemukan alogaritma baru yang bisa membuat perubahan besar pada umat manusia. oh...



*Time series adalah metoda peramalan yang hanya berdasarkan pada histori sebelumnya

**EST (Expressed Sequence Tag) adala salah satu cara untuk merepresentasikan cara paling luas dalam menuliskan partisi-partisi dari gen

***PCA (Principal Component Analysis) algorithm adalah metode mereduksi jumlah variabel yang menentukan proses klustering. Misal pada koordinat kartesian XY adlah dengan menghilangkan satu dimensinya sehingga titik-titik yang ada bisa di plot ke salah satu dimensi saja dan bisa dilihat yang mana yang dekat yang mana yang jauh untuk dibuat klusternya.

****Dijkstra algorithm adalah alogaritma yang dipakai untuk menemukan rute terpendek dari seseorang yang akan melewati semua kota. Permasalahan ini biasa disebut Travelling Salesman Problem. Lebih lanjutnya alogaritma ini dipakai di banyaaaaak artificial intelegence dari games-games dengan level komputer yang berbeda-beda, misal pada permainan catur atau balap mobil.

Monday, October 8, 2012

Mr S dan Abdallah

Saya punya seorang dosen S2 di jurusan Elektro ITB (telekomunikasi), namanya Mr S. Dia seseorang yg terkenal mempunyai dedikasi tinggi thd perkuliahan. Beda dengan dosen lainnya yg cenderung banyak "proyek" dan jarang masuk kuliah sehingga dirindukan oleh murid-murid, dia selalu datang tepat waktu walaupun rumahnya terbilang jauh, yaitu di Bandung Ujungberung, suatu ujung belahan bumi bagian Bandung Timur. Bahkan dia pun pada tiap semester sudah membooking slot Senin jm7-9 untuk salah satu matakuliah yang dia ajar. Dia pun memberlakukan aturan "datang telat nilai berkurang", sebuah aturan yang membuat mahasiswa jaman sekarang geleng-geleng kepala. Aturan yang bagaikan petir di pagi hari di hari Senin jam 7-9 pagi. Dengan ketepatan waktunya dan perhitungan nilainya yg benar2 exact sesuai rumus yg sudah dia bikin, maka nyaris tidak ada mahasiswa yg berani mendebatnya ketika urusan nilai sudah keluar.

Saya punya seorang teman mahasiswa S2 di jurusan Elektro (telekomunikasi) ITB, namanya Abdallah. Dia seseorang yg berkulit putih bermuka arab yg berkewarganegaraan Libya. Dia termasuk salah seorang yg selalu dibuli-buli oleh salah seorang dosen kami, Mr S. Sang dosen yg menurut sebagian orang cukup egois dan gamau kalah dalam beradu argumen pernah mempermasalahkan dia yg tidak lancar berbahasa Indonesia. Tidak sampai disitu, nilai TOEFLnya yang sebetulnya cukup tinggi dia sebut "ah itukan cuma TOEFL, orang Jepang juga TOEFLnya gede2 tp gabisa ngomong". Untungnya sang Abdallah tidak mengerti perkataan sang dosen sehingga ketika mahasiswa lainnya tertawa terbahak-bahak, dia pun hanya bisa ikut tertawa tanpa mengerti apa yang menjadi bahan tertawaan. Tiap kali dia bertanya pun, sang dosen (yg sebetulny kurang mengerti apa yg ditanyakan karena keterbatasannya dalam berbahasa Ingris) biasanya mejawab dengan memepermasalahkan pertanyaannya terlebih dahulu. Baru setelah diluruskan oleh mahsiswa lain ttg maksud pertanyaan sang Abdallah, baru sang dosen menjawab tepat sambil tetap menjaga gengsinya yg "gamau disbut kalah".

Dibalik semua itu, sang Abdalah yang sehari-hari hanya bisa menyebut "punten", "cisitu", dan senyuman sebagai bahasa tubuhnya ketika menghadapi percakapan seseorang, ternyata menyimpan suatu kisah sedih yang mendalam yang seharusnya apabila orang lain tahu, tak mungkin orang lain menjadikan ia sebagai bahan buli-buli.

Suatu ketika saya mencoba bercakap-cakap dengannya (sebisa saya) menggunakan bahasa Inggris. Sambil mengajak makan ke kantin bengkok, saya terus menanyakan ttg latar belakang dia karena sy memang tertarik dengan keberaniannya yang berani berpetualang sendirian dari Libya ke rimba raya Indonesia walau tidak mengerti sama sekali ttg bahasa Indonesia. Kekaguman saya terhadapnya seolah-olah sedang mewawancarai alien yang turun ke bumi. suatu fenomena yang sangat ajaib untuk saya saksikan. Sesampainya di kantin bengkok, dy pun bercerita ttg keluarganya di Libya sana. Dia mempunyai sebuah keluarga harmonis dari seorang ayah, ibu, dan seorang adik perempuan berusia kurang dr 10th. Lanjut cerita, ternyata keluarganya yang tinggal di Libya sana mengalami suatu musbah. Beberapa bulan silam di Libya terjadi konflik pemegang kekuasaan yang membuat ketidakstabilan politik dan militer sekaligus ketidakamanan yang terjadi disana. Pemberontakan dan perang lokal yg terjadi disana ternyata membuat sebuah bom jatuh di dekat rumah tinggal keluarga Abdallah dan menewaskan ayah dan ibunya. Adik perempuannya yg masih kecilpun depresi berat akibat kejadian itu. Saya sendiri pun shock berat ketika mendengar cerita itu keluar dari mulut sang Abdallah. Saya langsung membayangkan apabila musibah itu terjadi di keluarga saya, mungkin sy tidak bisa setegar dia. Langsung juga terbayang Mr S yang selama ini sering sekali membuli-buli dia. "oh, kalau saja dia tahu apa yang menimpa sang Abdallah, mana berani dia melakukan bullying" pikirku.

Semoga engkau tetap tegar hai Abdallah, dan semoga engkau menjadi seorang Abdi Allah yang sesungguhnya sesuai dengan namamu. Aaaamiiin..

Sunday, September 23, 2012

Jawaban Seorang Muslim Mengenai Film "Innocent of Muslim"

Inilah jawaban seorang #muslim untuk film "Innocence of Muslim" yang menghina Rasulullah
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku adalah #muslim, aku bangga menjadi #muslim, karena sejarah membuktikan
  • faktanya bukan #muslim yang memulai perang dunia pertama. Dan bukan #muslim yang memulai perang dunia kedua.
  • bukan #muslim yang menghancurkan hiroshima dan nagasaki dengan menggunakan bom atom
  • bukan #muslim yang membunuh 200juta indian di amerika Utara
  • bukan #muslim yang menghabisi 80 juta indian di amerika Selatan
  • bukan #muslim yang Membunuh 90 juta aborigin australia
  • bukan #muslim yang mengambil 180juta orang afrika sebagai budak lalu membuang 70 persen dari mereka yang meninggal ke lautan atlantik
  • bukan #muslim yang menjajah Indonesia, Bosnia, Afghanistan, Ethopia, Checnya, Suriah dan negara2 lainnya
  • bukan #muslim yang memulai kasus poso, ambon, maluku, dan papua
  • bukan #muslim yang memfitnah irak dgn senjata pemusnah massal yg ternyata cuma isapan jempol belaka
  • bukan #muslim yang serakah merebut ladang minyak Timur Tengah
  • bukan #muslim yang suka menghina nabi & agama lain
  • dan aku bangga.. Walau Islam tidak pernah teriak2 sbg agama damai, tapi #muslim tidak pernah menyerang siapa2 kalau tidak diserang duluan
  • walau Islam tidak pernah teriak" HAM & toleransi, tapi #muslim paling toleransi
  • dibanding sang "PENDEKAR HAM" Amerika yang rasis kepada kulit hitam. #muslim
  • dibanding perancis yang melarang jilbab. #muslim
  • dibanding swedia yang melarang Adzan. #muslim
  • dibanding swiss yang melarang pendirian Masjid. #muslim
  • #muslim mayoritas itu toleransi dan #muslim minoritas itu PEMBERANI
  • tapi tidak ada toleransi untuk melanggar perintah ALLAH SWT. #muslim
  • #muslim bukanlah anjing yang serakah dengan nafsu menjajah
  • #muslim bukan babi yang rakus nafsu membumi hangus
  • #muslim bukan monyet licik yang selalu menebarkan fitnah
  • #muslim tidak pernah mencari musuh & #muslim HARAM lari dari yg memusuhinya.

diambil dari :

Sunday, September 16, 2012

Teroris Fundamentalis

“Anda adalah teroris!” teriak seorang di sudut sana. “Pokoknya anda adalah teroris,! nggakmau tau!.”  Yang saya bilang teroris ia harus menjadi teroris. Karena saya berkuasa. Lihat saja! Jutaan mata tertuju pada saya, hebat bukan. Saya berhak berbicara apapun. Anda hanya diam di sana. Pokoknya, kalau saya bilang anda teroris anda harus setuju.

Jika ada yang nggak setuju, anda adlaah musuh kami. Kok bisa? Kata Noam Chomksy, Guru besar dari MIT itu mengutip pernyataan G.W. Bush  dalam ‘Maling Teriak Maling, Amerika sang Teroris’, “Setiap bangsa di semua kawasan kini harus memutuskan: Apakah Anda bersama kami, atau anda bersama teroris. Sejak hari ini, bangsa manapun yang masih menampung atau mendukung teroisme akan diperlakukan oleh Amerika serikat sebagai rezim musuh

Jadi sekarang pilihannya, anda mau ikut kami atau tidak! Anda mau menjadi kaderkami atau tidak. Anda ingin jadi penikmat kami atau tidak. Itu semua pilihan anda! Kalau nggak mau, maka anda kami cap bibit-bibit ‘teroris muda’. Sedangkan kami, di sini sedang melakukan kaderisasi. Kami sebar dengan gencar, masuk lorong-lorong kota. Sudut-sudut desa. Kami sebar dengan jangkauan kami.

Semua mata teruju kepada kami, hingga tiap rumah kami memasukinya. Pagi, siang malam. Begitu hebatnya kami. Kami mendidik kader-kader kami. Kami sebar opini-opini itu. Lihat saja, sekutu kami tersebar di belahan bumi ini. BBC, AFP, Times, dll mungkin bisa jadi kolega kami di luar sana. Di dalam sini masih banyak sekali kolega kami. Lihat saja di layar tabung di dalam rumah-rumah kalian.

Jadi, anda memilih mana? Teroris atau menjadi bagian dari kami. Mungkin anda tak sadar, anda menjadi kader setia kami. Anda perhatikan kami setiap harinya. Opini-opini kami, tersebar begitu meluas. Anda tak perlu datang ke surau-surau di sana. Cukup anda diam di dalam rumah saja. Menekan tombol remote itu. Cukup ikuti, anda menjadikan kader kami.

Jika anda ingin menjadi kader inti kami, pun itu mudah. Anda dukung kami, bahwa kami selalu benar. Saat di Filipina kami menulis ‘AS Mulai perangi Teroris Filipina”. Sekutu-sekutu kami menulis ‘gerombolan’. Atau ‘gerilyawan’. Atau ‘pemberontak’. Tapi, semuanya di belakang kami sisipi tulisan ‘Islam’.

Semua harus sepakat dengan definisi teroris kami. Sejak 11 tahun lalu, sesepuh kami mengumandangkan ‘Perang terhadap Terorisme’.  Sejak saat itu, kami harus mengikuti arahan Bos besar di sana. Sebab, sekarang eranya era sana!. Kalau nggak, sudah taulah kalian. Kami bisa di stop kiriman uang segar!

Dulu, kami sempat  sukses menjadikan kisah ‘pesantren sarang teroris’. Sekarang, kami harus bertambah. Teroris harus masuk ke sekolah-sekolah. Organisasi di ‘dekat’ Mesjid adalah sarana rekrutmen teroris. Cuman, doakan kami. Kami masih mencari celah, suapaya bisa tanpa sisipan ‘Islam’. Cukup tunggal saja ia sendiri.

Semua kawan-kawan kami mungkin sepakat. Sebab kami mainstream. Kami masih malu-malu. Walau pernah kami sorot buku Ibnu Katsir sebagai barang bukti. Begitu menyenangkan. Selangkah lagi, kami sedang berusaha supa Kitab Suci-nya  menjadi barang bukti. Bukti yang begitu manis.

Kami ,memang punya segalanya. Kami semua selalu bersepakat tentang definisi teroris. Lihat saja. Tak pernah kami menulis ‘teroris RMS”. Sebab menurut definisi kami. Teroris harus mengarah ke sana. Ke sisipan –sisipan itu. Kepada orang yang belajar kitab sucinya dengan baik. Kepada siswa berseragam manis yang berprestasi itu. Pokoknya, saat dia terlihat ‘Islami’ dia harus jadi ‘teroris’

Nggak boleh mereka mengaji ayat-ayat sambil melingkar. Yang boleh hanya kami. Kami saja yang harus melakukan kaderisasi. Kami berikan doktrin kepada calon kader kami bahwa jangan mendekat organisasi ekskul Mesjid, Sebab mereka bisa menjadi baik, benar , dan ramah. Mereka menjadi bermanfaat, mereka masuk PTN favorit, mereka berbuat baik pada sesama.

Itu semua tidak boleh!. Kami tak rela kader-kader kami direbut. Kami doktrin mereka lewat mesin-mesin kami. Pokoknya yang mendekat kepada ‘Islam’ kami berusaha lawan. Kami rekrut pemuda-pemuda dengan budaya-budaya titipan dari Bos kami di sana. Senang sekali, banyak yang terekrut oleh kami.

Kami ajari dengan program bahwa kebebasan adalah segalanya. Bebas! Nggak perlu belajar agama dengan baik, karena mereka itu ‘Teroris’. Semua harus versi kami. Tak pernah kami berteriak ‘teroris zionis Israel’. Atau ‘Teroris dll’ kecuali ia harus berhubungan dengan ‘Islam’. Coba saja cek ‘The Crisis Islam-nya Bernard Lewis , atau Francis Fukuyama dalam Newsweek (2002). ‘Taking The Hard Road-nyaTime (2002) malah bilang “Indonesia menghadapi pilihan sulit mengulung kaum ‘ekstrimis’ atau mengundang kemarahan Amerika.”.

Kalau menyerang Negara dengan Full senjata. Itu adalah hak bos kami. Ia bukan teroris. Tapi kalau anda ada yang ‘terduga’. Ia harus dihabisi. Tak tahulah, padahal baru terduga. Kalau mengacak-acak negeri orang atas mencari senjata pemusnah masal, itu tak masalah. Tapi kalau anda masuk Mesjid. Sstt. Hati-hati! Anda bisa-bisa jadi ‘Fundamentalis’ ‘radikalis’ ‘teroris’. Walau, kami sendiri terpaks harus mengikuti atasan kami.

Untungnya ini zaman sekarang. Sebab, julukan tersebut tersemat pada Bung Tomo, Imam Bonjol, Cut nyak Dien, Jendral Soedirman, dll. Pastinya, cap gerombolan dan gerliyawan tersemat pada mereka oleh para orang-orang Bule itu. Orang yang berjuang membela kemerdekaan itu, tak perlu diajari arti dari nasionalisme, pancasila dan sebagainya sudah berjuang, malah tersemat jargon-jargon demikian,

Jadi, sejarah berulang. Cuman beda masa saja. Sejarah selalu berulang. Bertubi-tubi kami bersama seluruh sekutu berusaha memadamkan ‘’. Huntington dalam Clash of Civilization menjelaskan berhadapan-nya kita dengan meeka. Benar juga kata Prof. Al Attas “This confrontation is by nature a Historcally permanent one”. Pokonya kami yang selalu benar.

Hanya kami yang boleh mengkader dengan tayangan-tayangan kami. Hanya kami yang boleh menentukan anda bersama kami atau tidak. Hanya kami yang berhak memberikan pandangan. Kalau kata  Goenawan Mohamad dalam Caping-nya (TEMPO, 27 Januari 2002) bilang ‘Fundamentalisme memang aneh dan keras dan menakutkan: Ia mendasarkan diri pada perbedaan, tetapi pada gilirannya membunuh perbedaan”

Bisa jadi kami sendiri yang tak sadar. Kami paksakan mereka menjadi kader kami. Kami propagandakan mereka untuk mendekati simpul-simpul kebaikan. Pokoknya, ga boleh kalau yang tak sependapat dengan kami itu yang benar! Walau kami masih mencari celah, supaya kitab suci dan agamanya dengan leluasa kami sebut ‘Teroris’. Bahkan Tuhan-pun kami Teror! Tak boleh ikut campur.. SARA!! Sejatinya, kami baru sadar, ternyata bisa jadi kami yang menjadi Fundamentalis, Radikal, bahkan Teroris itu sendiri… Wallahua’lam

Thursday, September 13, 2012

Ibu Guru Bijak

Ibu Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari’at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, “Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus.

Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah “Kapur!”, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!” Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.

Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika saya angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”. Dan permainan diulang kembali.

Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

“Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.

Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.”

“Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Guru kepada murid-muridnya. “Paham Bu Guru”

“Baik permainan kedua,” Ibu Guru melanjutkan. “Bu Guru ada Qur’an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu “dijaga” sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet.

Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?” Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.

Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur’an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.

“Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…”

“Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari’at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan.”

“Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?” tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo’a dahulu sebelum pulang…”

Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam, karena kalau mereka mengajak perang secara terang-terangan, bisa kita bayangkan, mungkin tukang becak yg ga pernah solat juga tiba-tiba teriak "Allahu Akbar.. kita serang amerikaaaaaaaa!!!!!"

Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim. Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.


“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu.” (QS. At Taubah :32).

Begitulah sikap musuh-musuh Islam. Lalu, bagaimana sikap kita?

Monday, August 13, 2012

Plan Z... maybe

Yap, terulang lagi..

Momen seperti inilah yg bikin saya bingung setengah mati. Tidak cuma sekali, bahkan sudah beberapa kali, tapi entah kenapa saya tetap masih bingung ngatasinnya.

Dalam mempersiapkan sesuatu, apapun itu, memang sudah selayaknya kita berfikir jauh kedepan. Menerawang menembus bayang-bayang. Jauh memikirikan kira-kira apa saja yang akan terjadi dan bagaimana cara kita mengatasinya jika itu terjadi. Ada satu pepatah yang paling saya suka (karena sy sendiri yg bikin :p) yang berbunyi:
"Just do the best you can do. Hope for the best, prepare for the worst" -gopal
Nah, bagian prepare for the worst inilah yang ternyata selalu tidak terduga.
Ketika kita menerawang kira-kira kemungkinan terburuk apasih yg akan terjadi dan sudah merumuskan rencana cadangannya, ternyata yang kejadian adalah sesuatu yg melebihi expektasi terburuk yang semula sudah diperhitungkan -___-
Ketika awalnya Plan --> B, yang kejadian malah Plan B dan diganti dgn Plan C. Dan sekarang yg kejadian ternyata lebih WAH lagi, ketika awal mempersiapkan Plan A B --> C, yang kejadian malah Plan A B C dan diganti dgn Plan D #eaaa

Tapi sebetulnya setelah dipikir baik-baik, disitulah Allah menguji seorang hambanya. Disitu pula Allah membimbing dan menaikan "level experience" kita. Bukankah seharusnya kita merasa senang? Pada hakikatnya, apa yg terjadi ketika mempersiapkan sesuatu yg kecil seperti ini sebetulnya sama dengan apa yang terjadi dalam kehidupan. Kejadian seperti ini hanyalah latihan agar di kejadian yang lebih besar kelak kita sudah siap dan tidak berkata "tapi kan........."

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat" (QS 2:214)

Ketika kita yakin kalau ini adalah ujian dari Allah dan kita yakin bahwa Allah tidak mungkin menyia-nyiakan hambanya, janganlah berputus asa karena sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat..

Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat (QS 15:56)

Monday, August 6, 2012

7 Mitos Salah Yang Masih Dipercaya Dokter

Saya mendapatkan artikel ini dari suatu berita. Saya tidak terlalu tahu apakah isinya benar atau tidak. Oleh karena itu sebetulnya saya sangat berharap ada dokter yang mau berkomentar dan memberikan klarifikasi :D

-------------------------------------------------------

Budaya populer dipenuhi oleh mitos dan legenda. Sebagian besar tidak berbahaya. Namun ketika dokter mulai percaya dengan mitos, mungkin ini sudah saatnya untuk waspada. Di British Medical journal bulan desember, peneliti telah memperhatikan beberapa kesalahpahaman, mulai dari kepercayaan bahwa seseorang harus minum 8 gelas air per hari sampai membaca di lampu redup akan merusak penglihatan.

“Kami merasa perlu mengangkat hal ini, karena kami tahu bahwa dokter mempercayai hal-hal seperti itu, dan bahkan memberikan informasi seperti demikian pada pasien”. Demikian kata dr. Aaron Caroll, asisten profesor pediatrik (spesialis anak) pada Indiana School of Medicine. “Dan kepercayaan seperti ini sering disitasi oleh media populer”.
Inilah mitos tersebut, sehingga dapat diinformasikan kepada dokter anda.

Mitos: Manusia hanya menggunakan 10 persen dari kapasitas otaknya.
Fakta: Dokter dan pelawak, seperti Jerry Seinfeld, sering mensitasi pernyataan ini. Ia sering secara sembrono dihubungkan dengan Albert Einstein. Namun scan MRI, scan PET, dan studi radiologi telah menunjukkan bahwa tidak ada area mengganggur (dormant) pada otak. Setelah melihat neuron individu pada sel, ternyata tidak ditemukan area yang inaktif. Studi metabolik mengenai bagaimana sel otak memproses kimiawi tubuh menunjukkan tidak adanya area yang tidak berfungsi. Menurut Caroll, mitos ini kemungkinan berasal dari para motivator kepribadian di tahun 1900an yang ingin meyakinkan audiensnya bahwa mereka belum mencapai potensi mereka secara penuh.

Mitos: Anda sebaiknya minum setidaknya delapan gelas perhari.
Fakta: “Tidak ada bukti medis yang menyatakan bahwa anda memerlukan air sebanyak itu”. Demikian kata dr. Rachel Vreeman, peneliti pediatrik. Menurut Vreeman, mitos ini berasal dari tahun 1945, dimana Badan Nutrisi Amerika Serikat merekomendasikan bahwa seorang individu mengkonsumsi cairan sebanyak 8 gelas. Bersamaan dengan berjalannya waktu, kata ‘cairan’ berubah menjadi air. Namun air yang berada pada buah, sayuran, kopi, dan cairan lainnya seharusnya juga dihitung.

Mitos: Kuku jari dan rambut akan tumbuh terus setelah kematian.
Fakta: Sebagian besar dokter pada awalnya meyakini hal ini. Namun setelah mereka pikirkan lebih jauh, ini tidak mungkin. Yang terjadi adalah sebagai berikut. “Sewaktu kulit tubuh mengering, jaringan lunak, terutama kulit, mengalami pengkerutan’. Demikian kata Vreeman. “ Kuku kelihatan lebih terlihat sewaktu kulit mengering. Hal yang sama juga terjadi dengan rambut, namun tidak terlalu jelas. Ketika kulit menyusut kedalam, rambut terlihat lebih kelihatan di permukaan kulit.”

Mitos: Rambut yang dicukur tumbuh lebih cepat, lebih gelap, dan lebih besar.
Fakta: Pada uji klinis tahun 1928 telah membandingkan pertumbuhan rambut di bagian kulit kepala yang dicukur dan yang tidak dicukur. Rambut yang digantikan oleh rambut yang dicukur ternyata tidak lebih gelap, lebih tebal, atau lebih cepat pertumbuhannya. Kajian yang lebih mutakhir telah mengkonfirmasikan hal ini. Inilah yang terjadi. Ketika rambut mulai tumbuh setelah dicukur, ia tumbuh dengan ujung tumpul, demikian penjelasan Caroll dan Vreeman. Seiring dengan berjalannya waktu, ujung tumpul tersebut menjadi semakin tumpul, sehingga rambut menjadi kelihatan lebih tebal. Rambut yang baru tumbuh bisa kelihatan lebih gelap juga, karena ia belum terkena paparan sinar matahari.

Mitos: Membaca di lampu redup merusak penglihatan
Fakta: Peneliti tidak menemukan bukti bahwa membaca di lampu redup menyebabkan kerusakan mata permanen. Ia dapat menyebabkan tegangan mata dan sementara mengurangi ketajaman penglihatan, yang segera akan pulih.

Mitos: Makan Kalkun membuat mengantuk
Fakta: Bahkan Carroll dan Vreeman meyakini hal ini, sampai mereka melakukan riset. Yang dipelajari, ternyata terdapat zat triptofan di kalkun yang menyebabkan ngantuk. Namun kalkun tidak mengandung zat itu lebih banyak daripada ayam atau sapi. Mitos ini didorong oleh fakta bahwa kalkun sering dimakan secara ‘kolosal’ bersama hidangan lain sewaktu liburan, sering kali dengan minuman keras. Dua hal itu bisa menyebabkan rasa kantuk.

Mitos: Ponsel dilarang digunakan di rumah sakit
Fakta: Tidak ditemukan adanya kasus kematian berhubungan dengan hal ini. Kasus interferensi dengan instrumen rumah sakit biasanya tidak serius, demikian temuan peneliti. Dalam satu kasus, handphone ditemukan telah menginterferensi 4 persen dari instrumen, namun hanya ketika telfon berada dalam jarak 1 meter dari instrumen. Kajian yang lebih baru, tahun ini, menemukan tidak adanya interferensi pada 300 tests di 75 ruang perawatan. “Ketika kami mendiskusikan kajian ini, dokter kelihatan tidak percaya bahwa handphone tidak menggagu instrumen.’ Demikian kata Vreeman. “Namun setelah kami memaparkan bukti medis, mereka akhirnya percaya bahwa kepercayaan seperti itu tidak tepat.”


------------------------------------------
Jadi... apakah ada dokter yg mau berkomentar?